Mikrofon Mic Interpreter Juru Bahasa Orang Rapat Merah Hitam Microphone Suara

STBA, Penerjemahan Bahasa Sunda Let’s Read Indonesia, dan Wawancara Penerjemah, 4 & 8 Des. 2019

Tiga acara itu ada di waktu yang berdekatan. Pekan yang sama. STBA, Rabu, 4 Desember dan dua acaranya lagi, Minggu, 8 Desember 2019.

Dua acara pertama, acara HPI Komda Jabar. Acara terakhir, acara pribadi. Pertama kali dalam hidup diwawancarai oleh dua orang mahasiswi sambil minum jus mangga di kantin depan mahad kampus.

Tiga acara ini masih seputar acara penerjemah bahasa atau terjemahan. Tiga acara ini terjadi tidak jauh setelah muncul di radio.

STBA Yapari-ABA Bandung 4 Desember 2019

Judul acara penerjemah bahasa ini adalah “Professionals in Localization: it’s not the localization you think“. Judul acara keren. Cuma waktu menyebarkan informasi acara ini, lebih suka dengan istilah acara “Lokalisasi di Bandung”, pastinya dalam konteks penerjemahan.

Kata localization adalah bahasa Inggris. Jika diterjemahkan secara harfiah menjadi lokalisasi. Hanya saja, para penerjemah atau orang bahasa lain, lebih suka menyebutnya sebagai pelokalan. Mungkin saja biar maknanya tidak menjadi negatif. Seperti arti kata lokalisasi yang banyak dikenal umum.

https://www.instagram.com/p/B5vTwf7Bgwz

Bagaimana Cara Menjadi Penerjemah Bahasa dan Pelokalan

Tidak banyak yang bisa diceritakan dalam acara ini. Dalam tulisan ini. Foto dan gambaran bagaimana acara itu, berlangsung ada di versi formalnya di https://jabar.hpi.or.id/?p=1235.

Saya sendiri tidak banyak bekerja untuk acara ini. Paling juga hanya mengikuti diskusi dan memberi masukan mengenai apa saja yang perlu disiapkan untuk acara ini. Kemudian datang saat acara. Lalu ngobrol dan ngopi bareng saat acara.

Kalau masih penasaran bagaimana cara menjadi penerjemah bahasa (translator atau interpreter), bisa keliling pakai tagar #penerjemah di blog dan lapak jasa penerjemah Inggris Indonesia ini.

Ada Gentra Seba

Dari beberapa kali mengikuti acara seminar atau pelatihan terjemahan, baru kali ini ada bagian yang sangat menarik. Selingan di sela-sela acara.

Penampilan Gentra Seba. Mungkin semacam Unit Kegiatan Mahasiswa bagian seni dan pertunjukannya. Grup Gentra Seba membawakan tiga jenis lagu, bahasa daerah atau bahasa Sunda, bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Tiga lagu itu pakai angklung. Salah satu ciri khas Jawa Barat. Keren.

Sampai Sore

Acara mulai dari pagi dan berakhir sore. Uang pendaftaran untuk mengikuti acara ini sangat murah sekali. 65 ribu untuk mahasiswa dan 70 ribu untuk umum. Padahal tiga narasumber yang dihadirkan, para penerjemah dan juru bahasa profesional semua.

Biasanya, kalau acara seperti ini, di tempat lain, uang pendaftarannya bisa sampai 100 ribu atau mungkin lebih. Itu juga paling acaranya hanya 3-4 jam. Kalau ini, bisa sampai 7 jam.

Para peserta acara ini didominasi oleh para mahasiswa. Kapasitas ruangan juga terlihat sudah maksimal.

Dari sekitar 180 orang lebih peserta, mungkin peserta umum hanya 5% saja. Itu juga, saya agak terlambat membagikan informasi ini di kalangan para penerjemah bahasa. Saat dibagikan H-3, ternyata pendaftaran sudah ditutup.

Acara ini diselenggarakan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari atau STBA Yapari-ABA Bandung, Jawa Barat. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Mal Ciwalk atau Cihampelas Walk.

Ruangan acara ini ada di lantai lima. Panorama dari lantai lima ini sangat indah sekali. Pemandangan ke Bandung bagian utara yang berbukit. Jadi tidak terlalu bosan saat menunggu hingga acara ini berakhir. Lalu ditambah saat itu hujan besar. Lansekap menjadi lebih epik.

Waktu selesai acara ini, diajak ngopi dulu di Ciwalk. Jadi ingat kalau dulu pernah juga ikuti acara di STBA dan pulangnya nongkrong ramai-ramai dulu di Ciwalk. Cuma kemarin itu, sudah terlalu cape. Soalnya juga, hari Minggu, masih ada acara lagi. Lalu, selesai beres-beres setelah acara sudah sore. Ditambah setelah hujan besar, jadinya ingin segera pulang.

Penerjemahan Bahasa Sunda di Unpad Jatinangor

Acaranya Minggu pagi, 8 Desember 2019. Tempat acaranya ada di lantai tiga, gedung B, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor.

Selama lima tahun sempat bolak-balik Unpad kampus Dipati Ukur – Unpad kampus Jatinangor, baru kali ini hari Minggu pergi ke kampus. Biasanya jam kerja. Alhasil, baru tahu kalau di pintu masuk bagian atas, tempat biasa sepeda motor masuk, ditutup. Ditutup karena ada pasar rakyat di hari Minggu.

Pintu masuk dipindahkan ke bawah baru tahu setelah berjuang melewati pasar hari minggu itu. Tadinya bisa tepat waktu tiba. Akhirnya sedikit terlambat datang ke acara ini.

Let’s Read Indonesia

Kalau acara sebelumnya dilaksanakan oleh STBA, acara ini dilaksanakan oleh Let’s Read Indonesia. Tidak lama sebelum acara STBA, dapat undangan dari Let’s Read atau letsreadasia.org. Undangan untuk memperkenalkan dunia penerjemah atau profesi penerjemah ke para mahasiswa.

Informasi acara ini disebarkan melalui Facebook, https://www.facebook.com/events/977775115928288/. Dapat bagian “Presentation: The Future of Translation”, 09.20-09.50 WIB. Sayang dokumentasi di https://www.facebook.com/letsread.indonesia/photos/a.471144946939732/471147690272791/ tidak bisa diakses.

Berhubung hari minggu, jadi suasana di kampus sepi sekali. Sangat sepi. Parkir motor tidak bayar.

Pegang Mikrofon

Tentu saja pembicaranya bukan penjual jasa penerjemah Inggris Indonesia ini. Niatnya datang ke acara ini hanya melihat tempat kenangan. Menemani bapak Ketua Komda Jabar menjabarkan mengenai Himpunan Penerjemah Indonesia dan dan profesi penerjemah. Sambil foto-foto.

Tadinya berniat mengambil gambar dokumentasi saja. Tidak berdiri di panggung, tidak berbicara. Soalnya, pakaiannya juga kurang sopan. Menggunakan celana model jeans robek dan ada jahitan.

Entah kenapa, akhirnya duduk bertiga di depan para peserta, bersama di kanan bapak ketua dan di kiri ada ibu sekretaris. Awalnya hanya ikut berkomentar dan menambahkan beberapa penjelasan penting saja. Soalnya jatah presentasi 20 menit.

Akhirnya duduk juga di depan. Mengeluarkan suara. Jarang sekali berbicara di depan publik seperti ini.

Pada akhirnya, waktu pemaparan menjadi panjang. Para mahasiswa juga cukup bersemangat mengajukan pertanyaan.

Dari pertanyaan yang diajukan, saya baru ingat, ini kan lingkungan kampus. Lingkungan akademisi. Beberapa pertanyaan yang diajukan ada yang seputar teori terjemahan. Sedangkan bahan yang disajikan adalah materi praktis. Gambaran umum praktik di lapangan.

Presentasi Terjemahan

Satu hal yang diingat, mengenai biaya jasa terjemahan. Saat itu menyebutkan berapa tarif terjemahan resmi per halaman versi pemerintah. Versi Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia, PMK.02/2018.

Ada reaksi saat mengatakan kalau tarif jasa terjemahan yang resmi itu sekitar 100 ribu – 150 ribu. Lalu juga ikut menambahkan, kalau tarif terjemahan pasangan bahasa asing ke bahasa daerah lebih tinggi. Contohnya saja biaya penerjemahan bahasa Sunda, dari bahasa Inggris ke bahasa Sunda, lebih tinggi dibandingkan bahasa Inggris ke Indonesia. Termasuk sebaliknya, bahasa Sunda ke bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Tadinya ingin mengatakan kalau penerjemahan bahasa Sunda atau bahasa daerah Indonesia yang lain mulai dicari. Setidaknya ada yang mencari. Tentu tren kebutuhan penerjemah bahasa daerah ini akan ada. Terlebih mengingat Google Translate sudah ada bahasa Sunda. Pasti penerjemah bahasa Sunda yang benar dan akurat akan dibutuhkan. Ini yang lupa disampaikan. Mungkin, karena duduk di depan sudah agak panjang dan hari itu para peserta masih ada rangkaian beberapa acara lain.

Diwawancarai Dua Orang Mahasiswi UIN

Beberapa hari sebelum acara Let’s Read atau STBA, ada pesan masuk di WhatsApp. Setelah memperkenalkan diri, mohon izin untuk mewawancarai terkait jasa terjemahan. Apalagi kalau bukan si tarjiem.com.

Akhirnya sepakat waktunya di Minggu, 8 Desember 2019. Lalu tempatnya di UIN Bandung, yang di Cibiru itu. Lintasan sepeda motor saat bolak-balik Bandung-Jatinangor. Tadinya mau di kafe, sekitar UIN juga. Cuma berhubung penasaran isi kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jadinya coba bikin janji di dalam kampus. Sekalian ingin tahu suasana kampus salah satu Universitas Islam Negeri.

Sesuai perkiraan, acara Let’s Read ini paling hanya dua jam. Rasanya hadir di tempat itu hanya sekitar satu jam saja. Jadi, sebelum Zuhur sudah bisa pulang. Tadinya berharap janjian wawancara ini bisa dimajukan. Akhirnya tetap jam satu siang juga. Terpaksa tidur-tiduran di masjid kampus UIN dulu.

Dunia Terjemahan A – Z

Sebelum wawancara, diberitahu kalau ini adalah tugas salah satu mata kuliah, kewirausahaan atau entrepreneurship. Jadi jelas, topiknya bagaimana usaha dunia terjemahan itu. Dunia translate.

Saya ingat, sebelumnya pernah juga ditanya-tanya oleh generasi milenial juga. Lupa terkait apa. Saat itu, pewawancara lupa mohon izin untuk merekam isi pembicaraan saat itu. Sama juga, saat ditanya-tanya oleh dua gadis Bandung semester lima.

Hampir 120 menit saya mendongeng mengenai dunia penerjemahan, fakta dan realitasnya. Dari soal harga, modal penerjemah, kamus, persaingan, pemasaran, klien, dsb.

Unpublished in Translation

Ada banyak hal yang diceritakan ke mereka tapi tidak saya ceritakan secara teks di blog tarjiem. Tidak pula saya ceritakan ke teman-teman penerjemah secara lisan. Saya katakan ke mereka, kalau ini adalah rahasia dapur saya pribadi. Khususnya bagaimana cara menjual jasa terjemahan zaman sekarang.

Sengaja saya sampaikan ke mereka. Harapannya, sebagai motivasi dan semangat bercita-cita untuk bisa berkarir di dunia dagang.

Bahkan salah satu pertanyaan menarik yang diajukan, “Sebaiknya menjadi wirausaha atau melamar kerja saat lulus kuliah?” Saya menafsirkannya, menjadi bos diri sendiri atau jadi karyawan. Tentu saja jawabannya tidak bisa disamaratakan ke semua orang. Pastinya, jualan jasa terjemahan juga tidak seindah yang dibayangkan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.