Penerjemah Bahasa VS Mesin Terjemahan (Google Translate) Komentar Translator

Penerjemah Bahasa VS Mesin Terjemahan (Google Translate) Komentar Translator

Ada satu alasan kenapa kategori Bahasa di tarjiem ini lebih sedikit dibandingkan kategori Bloger. Saat ini skor perbandingannya, Bloger 229 dan Bahasa 187. Selisih 42 tulisan.

Alasannya jenuh. Terkadang pembahasannya adalah pembahasan yang berulang.

Untuk mengobati kejenuhan itu, muncul ide. Kenapa tidak mengumpulkan komentar para penerjemah bahasa saja.

Soal penerjemah bahasa (manusia) versus mesin penerjemah sejenis Google Translate, pernah dibahas dua tahun lalu dalam Antara Tukang Pos dan Penerjemah Bahasa. Jadi kalau ingin tahu pendapat saya, bisa baca tulisan itu.

PERTANYAAN: Bagaimana Nasib Penerjemah Bahasa Ketika Suatu Hari Nanti Ada Aplikasi atau Software Terjemahan Akurat?

Diskusi itu berawal dari pertanyaan di grup Facebook penerjemah:

“Bapak/Ibu, Saudara/Saudari, Rekan-rekan sekalian, saya ada sedikit keresahan terkait terjemahan. Begini, apakah ada kemungkinan suatu hari nanti ada aplikasi atau software terjemahan akurat, sehingga nanti tidak dibutuhkan lagi translator.

Ada artikel 14 halaman, customer cukup pakai software, lalu hitungan detik atau menit, hasil translate-nya selesai. Apakah akan ada software seperti itu? Kalau ada, bagaimanakah nasib kita para penerjemah nanti? Dan kecepatan berapa tahunkah software itu akan tercipta? Apakah 5 tahun lagi? Atau 10 tahun lagi? Atau mungkin 50 tahun lagi?”

Komentar Para Penerjemah Bahasa Terhadap Google Translate

Agar mudah, saya sebutkan saja contoh produknya, Google Translate.

Komentar para penerjemah bahasa (translator) yang keren-keren ini dipilih dan dibuat secara berjenjang berdasarkan komentar dan tanggapan. Ada komentar yang mungkin disingkat. Namun kata-kata singkatan tersebut dibuat secara lengkap menurut KBBI.

  • Manusia tidak akan pernah menciptakan alat penerjemah yang mempunyai WIRASA. Hanya manusia yang mempunyai WIRASA. Jangan khawatir!
    • Wirasa itu apa?
    • Perasaan…
  • Machine Translation (MT) sudah banyak digunakan, penerjemah beralih peran menjadi editor. Itu pun kalau perlu, beberapa perusahaan hanya mencantumkan “terjemahan mesin” tanpa diedit.
  • Yang akan terkalahkan oleh mesin penerjemahan adalah penerjemah yang kemampuannya di bawah mesin penerjemahan…
  • Seharusnya bangga dengan Translation Machine, dan saya atau kita malu dengan kemajuan itu karena ilmu kita “computational linguistics” kalah jauh. MT atau Machine Translation adalah salah satu produk Computational Linguistics. Makanya saya heran ada mahasiswa menulis skripsi mengkritisi hasil terjemahan TM.
  • Just enjoy your job while you still can buddy, I am not saying we translators are immortal but just bear in mind that no feast last forever.
  • Selama bahasa kita masih berkembang dan orang kita masih hobi pakai singkatan, rasanya masih agak mustahil. Kalau pun masih waswas, coba lebarkan kecakapan dari sekarang.
  • Ada quote dari seorang penerjemah senior yg selalu saya ingat: “Selama perusahaan sebesar Google masih membutuhkan sumber daya manusia untuk mengembangkan Google Translate, human translator akan tetap dibutuhkan.”
  • Tanggapan pak Ade Indarta: Kayaknya sudah deh. Sudah banyak perusahaan yang pake MT murni. masalahnya kita penerjemah selalu merasa terjemahan itu harus sempurna. Tapi trennya sekarang kualitas itu bukan masalah standar tapi masalah keperluan. Ada konten-konten yang perlu diterjemahkan tapi tidak perlu kualitas sempurna. Ada dan sudah ada di mana-mana.
    • Seperti mahasiswa yang lebih suka hasil terjemahan gratis Google Translate daripada harus keluar duit “puluhan ribu” untuk jasa terjemah abstrak mungkin bisa menjadi contoh sederhananya ya pak.
    • Atau seperti yang disebutkan .. . Screenshot ini dari … . Di sana banyak ulasan dari pengguna yang kalau harus diterjemahkan secara sempurna biaya akan mahal sekali. Padahal belum tentu semuanya dibaca orang dan belum tentu orang perlu terjemahan yang sempurna. Yang penting intinya (gist), salah-salah sedikit bisa diterima. Dan dari perusahaan tinggal kasih info bahwa ini Machine translation to set expectation right.
  • Sempat terpikir ginian, kadang merasa lulusan sastra inggris jadi apa ya. Alat translate sudah tersebar luas, grammar checker juga udah ada. Grammarly yang gratis tis.
    • Pernah dengar istilah berikut? Voice User Interface, Chatbot designer, UX writer. Ini masih butuh linguis dan setiap berapa masa pasti teknologi berkembang terus. Daripada pesimistis, pantau lowongan di LinkedIn, lihat apa yang belum dikuasai dan pelajari. Kalau ngarep yang itu-itu aja ya… kelibas sama mereka yang cerdik.

      Jurusan Sastra Inggris tidak selalu jadi penerjemah dan editor loh, jangan menempatkan diri di satu kotak saja.
  • Mungkin untuk saat ini tidak ada kekhawatiran untuk hal itu.

    Tapi ada berita dalam Koran Amerika, bahwa dimasa depan peran manusia akan digantikan Oleh mesin. Contohnya kita saat ini punya HP smartphone, di masa yang akan datang HP smartphone akan lebih pandai dari hape sekarang. Ada smart home, rumah kecil itu cuman satu kamar kecil tapi di situ ada segala macam. Enggak kayak sekarang rumah gede. Smart kitchen, smart toilet. Di masa yang akan datang toilet akan kehilangan hak privacy nya karena, ketika kamu buang air, kencing kamu itu di selidiki takut-takut ada bakteri dan virus. Jangankan itu wanita tulen pun diganti dengan robot jadi para pria enggak perlu kasih nafkah dan robot tidak makan, tapi si robot wanita bisa melahirkan anak-anak. Enggak takut HIV AIDS soalnya robot tidak menyalurkan penyakit. Di masa depan laki-laki tidak menikah bisa punya anak. Mereka pikir robot bisa diapa-apain jadi tidak menikah Dan mereka pikir tidak ada yang namanya zina karena mereka melakukannya tidak dengan manusia tapi robot.
    • kalau pernah nonton wall-e, menurut saya itu sarkas masa depan.
  • Yang paling mengkhawatirkan itu kalau penerjemah pro yang menggunakan Google Translate mengklaim itu sebagai hasil terjemahannya. Menurut saya itu yang sebaiknya dikhawatirkan.
  • Saya menantikan program penerjemahan ini bisa berevolusi sendiri, tanpa bantuan linguist, programmer, atau manusia siapa pun, serta tanpa dana segar untuk menggaji/membayar karyawan/konsultan tersebut.

    Atau misalnya semua server dimatikan arus listriknya dan genset mati, tapi tetap bisa berkembang.
  • Sebagus apa pun hasil terjemahan mesin, tidak akan ada yang mau menerjemahkan dokumen hukum hanya oleh mesin tanpa direvisi oleh manusia.
    • Kita tunggu saatnya … benar-benar hanya menggunakan produknya sendiri … untuk menerjemahkan kontrak bisnisnya yang bernilai triliunan ke dalam beberapa bahasa…
  • Saya penerjemah bahasa Arab… insyaallah -untuk Bahasa Arab- 100 tahun ke depan mesin kayak begitu belum muncul.
  • Tidak bakalan ada karena insting dan instuisi hanya diberikan Allah Swt kepada mahluk yang bernama manusia. Kecuali Allah Swt berkehendak lain.
  • Tetap yang penerjemah manusia lebih akurat karena pakai perasaan.
  • Semua jenis pekerjaan akan tergantikan dengan yang lebih efisien, karena memang kodratnya manusia utk terus berkembang kan?

    Apalagi dengan perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) yang semakin bikin takjub.

    Betapapun, tidak perlu khawatir, karena meski pekerjaan lenyap, rizki tidak berhenti dibagikan dari langit. Pekerjaan cuma sarana ibadah.
  • Sementara itu belum terjadi, mari kita isi dengan menemukan order terjemahan dan bekerja sebaik-baiknya. Tidak ada gunanya mencemaskan sesuatu yang belum pasti.

Ada Pro dan Kontra Penerjemah Bahasa VS Mesin Terjemahan

Kalau diperhatikan sebanyak itu komentar, jelas ada yang setuju, mendukung, menolak, atau tidak setuju. Sebagai penjual jasa penerjemah Inggris Indonesia, pada akhirnya dikembalikan kepada calon pengguna jasa.

Saat Google Translate sudah mengenal arti cinta, saat itu pula jasa penerjemah bahasa (manusia) tidak diperlukan lagi.

tarjiem.com

Itu adalah kutipan saya pribadi terkait pembahasan ini.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.