Kalkulator Hitung Casio Hitam Uang Kertas Duit Receh Euro Kuning

Jualan Jasa Terjemahannya Pernah Tidak Dibayar? Pernah

Ini adalah pertanyaan paling sering dan membosankan. Saat menjelaskan ke orang-orang sekitar. Tentang memenuhi kebutuhan hidup dengan cara jualan jasa translate, jasa penerjemah bahasa Inggris – Indonesia.

Tulisan sebelumnya sudah ada. Judulnya mirip, Jualan Jasa Penerjemah Bahasanya Pernah Tidak Dibayar? Dalam tulisan itu, jawabannya tidak.

Selang 20 bulan kemudian setelah tulisan sebelumnya ditayangkan, jawabannya berubah.

Alhamdulillah, Sudah Pernah

Kejadian ini berlangsung bulan November 2019 kemarin. Persisnya tanggal 19 November 2019. Sebenarnya tidak suka mengingat ingat hal seperti ini. Harapannya, mengungkapkan dengan cara ini, kejadian 19 November itu bisa dilupakan.

Dalam tulisan sebelumnya juga ragu. Apakah pernah tidak dibayar atau selalu mendapat upah. Akhirnya terjawab juga. Ternyata, mungkin benar juga. Selama beberapa tahun ngelapak jasa terjemahan Indonesia Inggris, baru November kemarin perasaan ini mengganjal.

Hutang Jasa Terjemahan Indonesia ke Inggris

Jadi teringat soal hutang. Kalau orang memiliki hutang kepada kita, maka pemberi hutang biasanya akan ingat. Penerima hutang biasanya juga ingat. Biasanya loh ya.

Padahal begitu jasa terjemahannya sudah diikhlaskan tidak dibayar, sudah berusaha melupakan itu. Sayangnya, hal itu masih saja terngiang-ngiang. Akhirnya berkesimpulan, mungkin itu menjadi hutang. Mangkanya sulit melupakannya.

Hutang Jasa Terjemahan Indonesia ke Bahasa Inggris Rp350.000,00

Banyak atau sedikit itu tergantung setiap orang. Mungkin biaya itu kecil bagi sebagian orang. Bagi saya yang jasa translate bahasa Inggris ke Indonesia suka disamakan dengan spesies Google Translate, tentu jumlah rupiah itu sangat berarti sekali. Itu sebabnya sulit melupakannya.

Kok Bisa Jasa Penerjemahannya Tidak Dibayar?

Untuk itulah tulisan ini dibuat. Jawabannya, ya pasti bisa la.

Setelah tiga hari mengerjakan terjemahan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris sebuah karangan ilmiah, akhirnya hasil pekerjaan dikirim sesuai kesepakatan. Tepat waktu. Tidak terlambat. Memang sebelumnya sudah dibicarakan, kalau materi tersebut masuk antrian berikutnya. Ada pekerjaan yang sudah diterima dan harus diselesaikan sebelumnya. Penjual dan pembeli sepakat.

Lumayan mas hihi tp saya agak perfectionists orangnya krn ini jg mau upload ke … nasional

Katanya I

Begitu mendapat balasan WhatsApp demikian, karakter pengirim pesan sudah bisa langsung ditebak. Sebelum balasan itu, ada tanggapan atas hasil terjemahan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang sudah dikirim.

Dan bbrp diksi mungkin lebih baik diubah seperti “practice” mnjd “using”?

Katanya II

Begitu mendapati komentar di atas atas hasil pekerjaan saya, saya langsung memilih menghindari perdebatan.

Sebagai tukang jualan jasa terjemahan, tentu harus tahu batasan-batasan kapan harus bermain dengan kata-kata atau kapan harus menggunakan metode saklek, literal translation. Metode yang dipakai harus menyesuaikan bahan yang sedang diterjemahkan.

Berhubung bahan yang sedang diterjemahkan tidak terlalu saklek, metode yang dipakai menggunakan gaya “sedikit menari”. Tidak sampai ke metode penerjemahan fiksi. Persentasenya juga tidak lebih dari 10%.

Using vs Practice

Mari coba bahas sedikit saja. Terjemahan bahasa Indonesia dari dua kata bahasa Inggris di atas adalah, menggunakan dan mempraktikkan. Kata using juga bisa diartikan memakai.

Jadi, pemberi kerja berkeberatan kalau kata menggunakan diterjemahkan menjadi practice. Seharusnya using.

Jika Membawa Perasaan

Mirip pembeli nasi goreng yang mengatur penjual nasi goreng. Berapa kali harus membolak-balikkan dan mengaduk nasi goreng.

Mirip penumpang taksi yang mengatur supir taksi kapan harus menginjak gas dan kapan harus menginjak rem.

Mirip seperti pemilik rumah yang membayar upah kuli bangunan. Pemilik rumah memerintahkan jumlah adukan semen, pasir, dan air agar tercampur rata.

Pada intinya, nasi goreng yang dipesan harus sudah sesuai dengan pesanan pembeli. Pedas atau tidak, sedikit asin atau tidak, tidak pakai bawang, kecap agak banyak dsb.

Pada intinya, penumpang taksi sampai dengan selamat dan tepat waktu. Tanpa ada masalah selama perjalanan.

Pada intinya, rumah yang dibangun sudah sesuai dengan yang diinginkan. Bagian urusan mengaduk semen, tukang bangunan pasti lebih paham. Mengaduk semen hanya satu teknik dari berbagai teknik tukang bangunan yang memang harus dimiliki.

Jika membawa perasaan, pasti penjual nasi goreng menyuruh pembeli yang mengaduk sendiri nasi ogreng yang dipesan.

Jika membawa perasaan, pasti supir taksi meminta penumpangnya yang jadi supir. Biar supir taksi duduk di bangku penumpang.

Jika membawa perasaan, pasti tukang bangunan bilang ke pemilik rumah. Bagian mengaduk semen dikerjakan oleh pemilik rumah.

Dari Segi Terjemahan Indonesia Inggris

Tentu saja hal ini tidak boleh pakai perasaan. Sebenarnya, saat menerima respon pengguna jasa, saya bisa menjelaskannya. Hanya saja penjelasannya panjang lebar tidak akan berguna kalau karakter asli pembeli seperti “Katanya I”.

Jarang Jumpa Using

Kalau sudah terbiasa membaca karangan ilmiah internasional, buku teori, artikel yang semuanya menggunakan bahasa Inggris dan penulisnya bukan berasal dari satu benua saja, maka kita akan memahami dan menemukan kalau penggunaan kata using akan jarang sekali ditemukan. Biasanya kata yang banyak digunakan adalah performance, applied, practice, atau conducted.

Kata using adalah versi orang Indonesia menggunakan konsep Indonesia.

Tentu saja hal ini sengaja tidak saya jelaskan, sebagai pembelaan diri. Saya yakin percuma.

Menarik Ibu …

Begini saja, saya gratiskan saja pekerjaan ini. Ibu … tidak perlu membayar. Bagaimana?

Saya tidak ngambek.

Kata saya

Karena saya tidak suka berdebat, saya langsung putuskan saja percakapan di WhatsApp dengan balasan di atas. Saya tidak ingin terpancing lebih jauh menginformasikan berbagai materi terjemahan yang sudah pernah saya kerjakan sebelumnya. Portofolio saya.

Saya tidak bermaksud seperti itu mas :( … saya jadi ga enak..

Katanya III

Pada akhirnya dan kenyataanya, sampai tulisan ini dibuat, pekerjaan itu tidak dibayar. Toh duitnya “hanya” Rp350.000,00. Lagi pula, klien tidak harus tahu kalau saya mengerjakannya selama tiga hari penuh dan di hari terakhir saya harus bergadang penuh sampai pagi. Supaya hasil bisa dikirimkan tepat waktu dan sesuai harapan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.