Cerita Ikut Ujian Penerjemah Bahasa di Jakarta 2010

Cerita Ikut Ujian Penerjemah Bahasa di Jakarta 2010

Wah sudah lama sekali cerita pengalaman waktu mengikuti ujian penerjemah bahasa, sudah hampir 6 tahun yang lalu. Tulisan ini terpicu dari pembahasan tulisan sebelumnya, penerjemah bersertifikat vs penerjemah tersumpah. Tulisan sebelumnya juga didorong dari pertanyaan obrolan cukup lama dari obrolan langsung atau live chat. Berhubung pertanyaanya cukup menarik dan memang diprediksi akan ditanyakan, jadilah tulisan ini dibuat.

Sudah lama juga ingin menulis cerita ini. Bahkan tahun 2010 itu adalah awal mula meneguhkan hati untuk memilih jalan seorang penerjemah freelancer. Padahal seingat saya, saat itu statusnya masih seorang karyawan kontrak bank syariah di Bekasi-Jakarta, eh Jawa Barat. Sayangnya mungkin ada beberapa hal detail yang lupa soal pengalaman ini, karena sudah lama.

Penerjemah Tersumpah yang Diidam-Idamkan

Istilah penerjemah tersumpah ini memang sangat santer di masyarakat, termasuk saya saat masih kuliah di Sastra Inggris dulu. Hingga kini, istilah ini masih sangat populer jika orang-orang mendengar kata profesi jasa penerjemah bahasa. Istilah “apakah Anda adalah penerjemah tersumpah atau sworn translator?”, hampir sering dan selalu ditanyakan. Entah itu masyarakat umum atau calon pelanggan. Bersamaan juga dengan istilah translate atau jasa translate dibandingkan dengan kata penerjemah bahasa atau penerjemahan.

Cita-cita mendapatkan kasta penerjemah tersumpah sudah ada sejak awal lulus kuliah hingga saat bekerja di Bekasi dulu. Lalu, dicari-carilah informasi soal penerjemah tersumpah dan ujian penerjemah tersumpah saat triwulan akhir 2010. Kesimpulannya, saat itu ujian penerjemah (tersumpah) diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, tepatnya oleh Lembaga Bahasa Internasional UI (LBI UI). LBI UI sendiri ada di bawah Fakultas Ilmu Budaya atau FIB Universitas Indonesia.

Lalu mulailah pergi ke LBI UI yang ada di Salemba dari Bekasi dengan sepeda motor hanya untuk bertanya langsung soal ujian penerjemah ini hari Sabtu pagi. Pas kebetulan memang tidak lama lagi jadwal pendaftaran LBI UI untuk ujian penerjemah bahasa akan dibuka sekitar 1-2 bulan lagi. Kalau dihitung-hitung, waktunya tidak cukup untuk belajar ulang dunia terjemahan. Saat itu jadwal kerja dari kantor padat hampir setiap hari.

Biaya Mengikuti Ujian Penerjemah Bahasa Adalah 700 Ribu

Saat mendaftar ada 2 pilihan kategori untuk mengikuti ujian penerjemah bahasa, kategori umum dan kategori tersumpah. Mohon dicatat, saya sedikit ragu dan sedikit lupa untuk kategori yang kedua. Apakah memang penerjemah tersumpah atau ada kategori yang lainnya, seperti kategori penerjemah teks hukum. Intinya yang saya ingat ada beberapa pasang bahasa selain pasangan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Lalu ada dua kategori ujian, selain kategori teks umum. Mari anggap saja kategori kedua adalah kategori penerjemah tersumpah karena setahu saya saat itu hanya UI atau Pemda DKI Jakarta yang berhak mengeluarkan ijazah penerjemah tersumpah.

Hal yang paling saya ingat adalah biaya pendaftaran mengikuti ujian penerjemah bahasa saat itu adalah 700 ribu untuk pasangan bahasa Inggris ke Indonesia atau sebaliknya. Bahkan saya masih ingat biaya registrasi ujian penerjemah untuk kategori penerjemah tersumpah atau kategori hukum. Biayanya saat itu 1,5 juta rupiah untuk kategori teks hukum.

Lokasi Ujian Penerjemah Bahasa di UI Depok

Waktu ujian diselenggarakan bukan di Jam kerja, kalau tidak salah hari Sabtu. Lokasi ujian penerjemahnya di kampus UI Depok. Fakultas mana lupa, yang jelas bangunannya bangunannya lama dan ada taman di tengah bangunan tersebut, lumayan asri.

Cerita Menarik Saat Ujian Penerjemah Bahasa

Cerita ini yang sulit saya lupakan. Durasi ujian penerjemah sepertinya kurang dari 3 jam. Peserta yang mengikuti ujian penerjemah ini dibagi beberapa sesi dalam 1 hari. Bersyukur saya bukan mendapatkan sesi yang pertama. Nah sebelum masuk di ruang kelas, saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan peserta lain. Momen baik ini sangat sayang dilewatkan terutama untuk menambah kenalan sesama profesi.

Saya pun mencoba banyak mendengar dan berbincang dengan seorang bapak-bapak. Satu hal yang saya ingat betul, bapak ini sudah 3 kali mengikuti ujian penerjemah teks hukum Inggris Indonesia dan tidak lulus. Cukup kaget saya mendengar itu, memang sesulit itukah ujian penerjemah (tersumpah) ini. Menariknya beliau bercerita sambil tersenyum. Yang saya pikir saat itu, berapa duit yang sudah beliau keluarkan hanya untuk mengikuti semacam ujian sertifikasi penerjemah bahasa ini. Nilai 700 ribu saja sudah cukup besar bagi saya.

Tidak Boleh Bawa Kamus Bahasa Digital Saat Ujian

Semenjak pendaftaran, peraturan ujian penerjemah bahasa ini tidak membolehkan para peserta menggunakan kamus bahasa digital hanya membolehkan memakai kamus cetak saja. Saya masih ingat, saya membawa 3 kamus besar bilingual dan monolingual, di antaranya kamus Alan Steven Indonesia ke Inggris dan Tesaurus Bahasa Indonesia, termasuk kamus saku Oxford yang dipakai semenjak kuliah.

Tulisan Lain: Kamus Bahasa Inggris Indonesia yang Dipakai Saat Menerjemah

Ruang Ujian

Tiba saatnya bagian saya untuk mengikuti ujian terjemahan ini. Para peserta diminta masuk ke ruang komputer. Ada sekitar 20 komputer dalam satu ruangan. Saya lihat ada 2 ruangan berseberangan yang dindingnya hanya dilapisi oleh kaca. Jadi kelihatan ruang komputer sebelah.

Jalannya Ujian Penerjemah Bahasa

Para peserta diminta masuk ke ruangan komputer. Lalu diberi sedikit pengarahan yang intinya dilarang menggunakan kamus digital. Artinya tidak boleh menggunakan flashdisk. Lagi pula proses ujian menggunakan perangkat lunak khusus. Jadi begitu peserta telah duduk di tempat masing-masing, program lunak khusus ujian ini sudah terbuka. Peserta tinggal memasukkan nama atau nomor peserta ujian.

Saya ingat, dengan percaya dirinya saya mengeluarkan tiga kamus besar dari dalam tas lalu ditaruh di atas meja. Kesimpulannya, ketiga kamus tersebut sama sekali tidak dipakai dan hanya memberatkan beban bawaan tas saja.

Materi Ujian Penerjemah

Berhubung kategori yang diikuti adalah ujian penerjemah teks umum, jadi materinya adalah materi umum. Kalau tidak salah para peserta diberi tiga pilihan artikel, mungkin sekitar 500 atau 1.000 kata sumber atau sekitar 2-3 halaman. Saya juga lupa memilih tema artikel apa. Yang pasti tulisan yang diterjemahkan itu adalah berita, kalau tidak salah lagi topik beritanya adalah soal bidang ekonomi. Semoga tidak banyak salah nih ceritanya.

Metode Penilaian Ujian Penerjemah

Ada 2 kategori metode penilaian ujian penerjemah saat itu. Pertama kesalahan mayor dan kedua kesalahan minor. Maksimal kesalahan mayor adalah tiga kesalahan besar dan minor kalau tidak salah 5 atau 10 kesalahan kecil. Contoh kesalahan mayor adalah salah terjemahan leksikal atau salah makna. Ini memang fatal sekali. Contoh kesalahan minor seperti salah ketik, salah spasi, salah koma, dsb.

Pelajaran Penting Saat Tidak Lulus Ujian Penerjemah Bahasa

Lima belas menit awal saya langsung sadar level kemampuan penerjemahan bahasa saya pada saat itu. Jika diukur dengan skala 1 sampai 10, kemampuan menerjemah saya pada saat itu hanya level 1 dengan kondisi tanpa alat bantu digital. Saya serius menerjemah hanya 15 menit. Bolak-balik kamus ternyata tidak banyak membantu, hanya menghabiskan waktu. Akhirnya yang saya lakukan hanya melihat peserta lain dan menunggu sampai waktu habis. Saya juga sudah tahu hasil pengumuman ujian penerjemah yang akan diumumkan 3-6 bulan semenjak ujian dilaksanakan. Uang 700 ribu juga harus diikhlaskan.

1. Bisa Bahasa Inggris Belum Tentu Bisa Menerjemah

Ini persepsi saya pada saat itu. Bahasa Indonesia gampang, tinggal mengikuti saja. Ternyata ujian penerjemah ini membuat saya syok dan membuat saya paham, begini ternyata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meski seorang yang bisa dua bahasa sudah bisa disebut penerjemah, namun belum tentu bisa menerjemah dengan baik.

2. Tanpa Kamus Digital Saya Tidak Ada Apa-Apanya

Tidak ada kamus digital, tidak ada referensi internet, tidak ada Google, tidak ada Wikipedia, bantuan frasa Google Translate apa lagi, yang ada hanya ingatan jumlah kosakata yang ada di kepala. Kosakata saya sangat minim sekali ternyata.

3. Peserta yang Lulus Ujian Penerjemah Adalah Penerjemah yang Hebat

Itu kenapa, selama ini terus belajar bahasa Indonesia dengan cara menulis di blog. Bahkan saya sangat salut dan menghormati mereka yang lulus uji nyali penerjemah ini. Entah itu ujian penerjemah tersumpah atau bersertifikat. Atau ujian hidup yang lainnya. #eh.

4. Butuh Proses Untuk Jadi Seorang Penerjemah

Terutama untuk menghafal kosakata. Buat saya yang belum pernah ke luar negeri atau malah belum pernah tinggal di negeri bule, tentu kosakata atau gaya bahasa asing sangat sulit dipahami. Belum lagi termasuk unsur budaya lokalnya.

5. Entah Kapan Lagi Berani Ikut Ujian Penerjemah Bahasa Lagi

Saat itu sadar sesadar sadarnya kalau lebih baik berstatus hanya sebagai penerjemah biasa. Menerima materi bidang hukum saja masih berpikir berkali-kali dulu.

6. Tarif Terjemahan Bagi yang Lulus Ujian

Tidak heran kalau biaya terjemahan bagi penerjemah yang lulus ujian kompetensi penerjemah ini bisa melambung harganya. Untuk pasangan Inggris-Indonesia saja bisa mematok minimal 100 ribu rupiah per halaman. Alasannya ya itu, mereka yang lulus ujian penerjemah adalah mereka yang memiliki kosakata bahasa yang lebih banyak tanpa bantuan referensi dari luar. Benar-benar mengandalkan rekam jejak pengalaman kosakata saat menerjemahkan berbagai materi.

7. Penerjemah Tersumpah Adalah Kasta Tertinggi

Tanpa bermaksud berlebih-lebihan, dari pengalaman saat mengikuti ujian penerjemah bahasa atau translator ini memang penerjemah tersumpah atau sworn translator memiliki kedudukan yang tinggi. Selain memang harus spesialis di bidang legal atau hukum yang benar-benar kelas berat, penerjemah tersumpah juga harus hafal kosakata hukum yang sedikit rada jelimet.

UKP atau Ujian Kualifikasi Penerjemah 2010

Setelah mencoba mencari arsip lama di surel setelah tulisan ini selesai, nama ujian penerjemahnya adalah UKP atau Ujian Kualifikasi Penerjemah. Alamat kontak pada saat itu adalah:

Program Pengembangan Penerjemahan
Lembaga Bahasa Internasional
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
Jl. Salemba Raya 4 Gd. Rektorat Lt. Dasar
Jakarta 10430
Tlp : + 62 21 31902112
Fax : + 62 21 3155941
Website : lbifib.ui.ac.id

Semoga ada manfaatnya.

4 thoughts on “Cerita Ikut Ujian Penerjemah Bahasa di Jakarta 2010

  1. sebegitu sulitnya ya mencapai penerjemah tersumpah. cocok kalo disebut dengan kasta elit penerjemah.
    semangat yaa.. semoga bisa segera menjadi penerjemah tersumpah.
    saya salut dengan etos kerja anda.

  2. waw kang makin keren aja nih,, ikutan ujian penerjemah pastinya hasilnya makin memukau,, kalau ikutan les bahasa inggris bisa tah kang? hehehe saya masih kacau nih bahasa inggrisnya

Leave a Comment