Apakah Pembeli Perlu Tahu Spesifikasi Hos?

Siang ini ada sebuah diskusi menarik. Sebenarnya sudah berusaha menahan diri supaya tidak ikut komentar tapi akhirnya tulis komentar juga. Diskusi tersebut akan terlalu panjang. Setiap orang pasti punya pandangan masing-masing. Belum lagi bakal ada hubungannya dengan duit.

Terus blog lapak terjemahan ini hampir dua bulan tidak ada tulisan baru. Ketika ada tulisan baru, eh yang dibahas bukan bahasa, terjemahan atau dunia penerjemah bahasa. Hal yang dibahas malah kategori bloger, hos atau hosting.

Apakah pembeli perlu tahu spesifikasi server?

Judul asli pertanyaannya itu. Sebenarnya lebih panjang sih.

Apakah pembeli perlu tahu spesifikasi server, pakai proci apa, besar port dsb?

Sengaja menuliskannya di sini. Ya hitung-hitung tambah tulisan di sini. Lagi pula, dengan menulis di blog sendiri, ada kebebasan mengeluarkan pendapat. Lalu, kalau pun diskusi soal hosting itu dikomentari terus, jumlah kata-kata dalam komentar mungkin bisa tembus jadi 300 kata. Setidaknya 200 kata atau 100 kata. Yang kalau dihitung-hitung, itu sudah bisa menghasilkan satu buah tulisan untuk blog ini.

Blog tarjiem ini ada tagar soal hosting atau hos. Ada sekitar 40 tulisan berlabel hos di tarjiem. Maklum saja, hosting, WordPress, dan bloger itu hubungannya erat sekali dengan si tarjiem ini.

Perlu Tapi Sejauh Apa Informasi yang Perlu Disampaikan

Seperti ketika jualan jasa penerjemah bahasa Inggris Indonesia. Ketika ada calon pengguna jasa terjemahan bertanya, saya hampir tidak pernah memberitahu kalau saya memakai CAT Tool Trados atau sempat bantu-bantu di HPI. Padahal itu salah satu bukti keseriusan kalau saya memang jualan jasa penerjemah bahasa.

Kebanyakan calon pembeli hanya perlu tahu, biaya dan waktu pekerjaannya termasuk apakah saya penerjemah tersumpah atau bersertifikat.

Kan Hosting dan Penerjemah Beda

Sebenarnya sih ada persamaan. Yah setidaknya sama-sama menjual jasa. Bedanya, sewa hosting itu barang yang disewa tidak bisa diraba hanya bisa dirasa. Kalau jasa terjemahan, hasil terjemahannya bisa dicetak. Cuma, yang membutuhkan jasa penerjemah ini tidak sebanyak layanan hosting.

Persamaanya?

Sama-sama menghasilkan sebuah kualitas. Hosting yang bagus pasti punya jaringan yang bagus, prosesor komputer (server) yang dipakai terbaru, cakram padat (hardsik) jenis terbaru, bagaimana dengan uptime-nya, pengelolaanya yang baik, dsb. Kalau terjemahan? Kalau pembaca tidak paham hasil terjemahannya, mungkin hasil terjemahannya bisa dibilang buruk.

Setidaknya share hosting itu banyak memberi pengaruh terhadap pagespeed sebuah blog.

Sewa Hosting Sama Dengan Seperti Menyewa Mobil

Di komentar pertama saya menanggapinya dengan analogi pembelian mobil. Waktu menulis, saya sadar, tidak sama beli mobil dengan beli hosting. Untuk hosting, lebih tepatnya pakai kata “sewa hosting”. Sengaja pakai analogi beli mobil, biar tulis komentarnya tidak panjang.

Ketika sewa mobil, apakah penyewa perlu tahu merek ban atau jenis pelek mobil yang akan disewa? Tentu saja tidak perlu. Toh wujudnya nanti juga bisa dilihat. Padahal informasi pelek mobil dan merek ban mobil itu tidak penting.

Yang penting, CC mobil atau kapasitas mesin atau daya angkut mobil itu berapa. sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan penyewa. Ya kalau di hosting mirip-mirip disc space dan jatah memory la.

Hosting Itu Tidak Terlihat

Bedanya dengan hosting, hosting itu wujudnya tidak terlihat. Hanya uptime saja yang bisa dirasakan. Bagaimana mungkin penyewa hosting tahu merek prosesor apa yang dipakai atau jenis cakram padat apa yang dipakai jika tidak bertanya sebelum membeli.

Saya sendiri belum sampai bertanya prosesor apa yang dipakai di server yang akan ditempati. Paling jenis cakram padatnya saja.

Karena hosting itu tidak bisa dilihat oleh mata kepala penyewa, tugas pemberi sewa memberi gambaran bagaimana layanan yang akan diberikan. Sehingga bisa meyakinkan calon pengguna memilih layanan tersebut.

Kapok Dengan Hosting Jelek

Ada belasan merek yang sudah saya rasakan terkait hosting ini. Lihat saja di Daftar Share Hosting dan Tempat Domain yang Pernah Dicoba. Lalu, baru-baru ini, saya agak kecewa dengan share hosting yang baru saya sewa. Mana langsung ambil satu tahun lagi. Padahal proses memilihnya sudah ketat menurut saya.

Saat minta versi PHP 7.4 atau yang terbaru, ternyata ada bagian Softaculous yang tidak berjalan. Celakanya, malah bagian itu yang saya perlukan. Berhubung baru tahunya sudah lewat satu bulan, ya mau bagaimana lagi.

Gilanya Iklan Hosting

Lalu, beberapa bulan lalu saya diminta untuk memegang WordPress. Waktu saya tahu domain ada dimana, saya langsung bilang merek registrar atau tempat domain domain pertama dibeli itu jelek. Ternyata benar kalau terjebak dengan iklan, kemakan iklan. Iklan di urutan pertama hasil pencarian saat menulis hosting atau wordpress

Kompetisi hosting memang sangat ketat sekali. Terbukti beberapa tahun lalu saya membaca kalau pengeluaran belanja pasang iklan untuk kategori hosting termasuk yang tertinggi. Tidak heran nilai CPC juga tinggi.

Domain memang tidak ada hubungannya dengan hosting. Tapi, kalau yang jeli, apalagi saat pertama kali beli domain dan sudah keliling-keliling puluhan toko hosting, pasti paham. Ada hosting yang menawarkan paket hosting+domain yang harganya seharga domain. Satu harga bisa dapat dua layanan. Tempat membeli domainnya juga bikin hati tenang.

Itu Sebabnya Perlu “Live Chat”

Solusi praktisnya menyediakan obrolan langsung atau live chat. Terlebih untuk pertanyaan sebelum pembelian. Jika ada pertanyaan yang aneh-aneh dari calon pengguna, tentu pemberi sewa boleh tahu juga akan digunakan untuk apa hosting yang akan dipakai. Tinggal bertanya kebutuhan calon penyewa hosting.

Sama ketika saya jualan jasa terjemahan, saya perlu melihat dulu bahan yang akan diterjemahkan sebelum menyatakan kesanggupan saya dan penyebutan harga.

Bagi saya, cara paling mudah menilai sebuah layanan hosting, dengan cara menilai obrolan pertama kali di live chat. Termasuk berapa lama kita menunggu antrian live chat.

Ada Harga Ada Rupa

Saya setuju dengan sebuah ulasan soal share hosting yang pada intinya adalah “Ada Harga Ada Rupa”. Ada share hosting yang disc space hanya 1 GB tapi harga bulananya sudah hampir setara harga bulanan VPS DigitalOcean paket rendah. Tentu saja faktor utama yang membedakannya adalah spesifikasi mesin atau jaringan yang dipakai. Termasuk tingkat keahlian/support yang ditawarkan. Tinggal tugas pemberi sewa memberitahu kenapa harga yang ditawarkan bisa sampai segitu tingginya atau murah.

Default image
Ridha Harwan
Penjual jasa penerjemah Inggris ke bahasa Indonesia dan Indonesia ke bahasa Inggris. Cek profil di sini atau tombol media sosial di bawah ini. Terima kasih atas kunjungannya.

2 Comments

  1. Wah, kita member group diskusi yang sama nih.

    Bagi saya informasi yang penting saat mau beli layanan web hosting: storage size, RAM, CPU, Inode, SSL, dan harga perpanjang. Informasi tambahan lainnya apakah pakak Litespeed, Apache, atau Nginx.

    Ngomong-ngomong kok sama ya, baru-baru ini saya beli layanan web hosting yang penasaran saya coba, eh ternyata ada kerepotan tersendiri di php-nya, kalau dibandingkan di tempat lain baru sekali ini juga saya alami.

Leave a Reply

tarjiem.com adalah blog dan lapak jasa penerjemah bahasa Inggris ke Indonesia dan Indonesia ke Inggris.

Bandung - Jawa Barat

WhatsApp: +6285210384502