Facebook yang Menciptakan Dunia Ketiga

Tekad bulat untuk keluar dari grup WhatsApp akhirnya terlaksana juga pagi ini. Lima menit kemudian, masuk lagi ke grup WhatsApp yang sama. Dimasukin. Akhirnya bingung sendiri.

Lalu teringat dengan judul tulisan ini. Judul yang sudah lama terpikirkan. Lama tidak ditulis, sadar tulisan ini akan panjang. Bikin bosan pembacanya.

Karena tidak ingin banyak mengetik di grup tersebut, maka dibuatlah tulisan ini. Setidaknya dipakai untuk jadi alasan kenapa keluar dari grup WhatsApp.

Tanpa sadar kita sendiri yang mengurung ilmu pengetahuan, mengaburkan informasi, dan mendistorsi kebenaran dengan menciptakan banyak grup WhatsApp dan grup Facebook.

Kata Saya

Itu adalah ringkasan tulisan panjang dan konyol ini. Untuk mereka yang suka pendek dan ringkas. Tidak ada gambar seperti komik dalam tulisan ini.

Hanya Satu Grup WhatsApp

Saat menulis ini, hanya satu grup WhatsApp yang setiap hari muncul gambar bulat berwarna hijau itu. Pemberitahuan alias notifikasi (notification).

Itu juga grup keluarga dari ayah. Itu juga baru dimasukin minggu lalu. Itu juga ingin keluar dari grup tersebut. Sedang menguatkan hati dulu. Entah jadi atau tidak, entahlah.

Lima Grup WhatsApp

Sebenarnya ada beberapa grup yang dimasukin. Mungkin kurang dari grup. Lima grup itu, sangat jarang aktif. Sampai lupa apa nama grup itu.

Dunia Pertama yang Kita Ciptakan Bersama-Sama

Dunia pertama itu adalah dunia nyata. Dunia tempat kita bisa saling berjabat tangan, menatap bola mata, dan melihat batang hidung kita masing-masing. Dunia di mana lima indera yang ada di dalam diri manusia bisa saling merasakan satu sama lain.

Dunia Nyata

Tidak perlu dibahas panjang lebar. Kita semua tahu apa itu dunia nyata. Dunia yang ada sejak listrik belum ditemukan. Dunia yang ada sejak internet belum ada. Itulah dunia nyata.

Data Alexa.com menyebutkan kalau Google adalah situs paling banyak diakses. Facebook sempat berada diurutan ketiga. Dari sini saja sudah bisa dilihat “pergerakan dunia.”

Dunia Kedua

Sebelum istilah online atau cyber world populer, ada istilah yang mungkin tidak dikenal oleh generasi Z. Dunia maya. Dunia ini tidak ada tapi kita semua bisa merasakannya. Apalagi era industri generasi keempat ini, era industri 4,0.

Google yang menciptakan Dunia Kedua

Sadarkah kita kalau internet itu dikuasai Google? Semua informasi ditentukan oleh Google. Sadarkah itu? Kalau yang tidak sadar, tulisan ini akan panjang sekali.

Ilustrasi: Understanding Generation Z - lynmark.com.au
Ilustrasi: Understanding Generation Z – lynmark.com.au

Pada intinya, setiap kali membuka internet, halaman apa yang dibuka pertama kali? Google? Mesin pencari Google? YouTube? Generasi sekarang mungkin YouTube, bukan mesin pencari Google lagi.

Ketika kita mencari kebenaran atau informasi, hampir kita semua bergantung pada mesin pencari. Sayangnya, di dunia maya, hal yang benar bisa kalah dengan ketidakbenaran. Itu yang sulit dikalahkan oleh algoritma Google sampai saat ini. Mengalahkan hoaks. Kalau saya menyebutkan sebagai ini.

Banyaknya Orang Baik Kalah di Dunia Kedua

Dua hari lalu mencari informasi “pajak setelah diskon atau sebelum diskon” untuk menyempurnakan ini. Sampai halaman ketiga, informasi yang dicari tidak ketemu. Akhirnya pakai cara lama. Tanya ke saudara yang memang jago akuntansi.

Sadar, memang begitu algoritma Google. Banyak informasi yang sama berulang-ulang. Dengan keahlian tertentu, hal salah juga bisa jadi benar di halaman pertama mesin pencari Google. Belum lagi soal cookies dan cache.

Dunia Kedua itu Situs Web

Website, begitulah orang asing menyebutnya. Indonesia situs web. Dunia kedua adalah triliunan situs web yang ada di dunia maya. Mungkin triuliunan karena tidak sedikit situs yang tidak muncul di mesin pencari. Ada situs web yang memang sengaja tidak boleh diketahui publik dan robot laba-laba Google tidak boleh menampilkannya. Pakai perintah noindex. Deep web.

Saat orang perlu sesuatu di dunia maya, kemana orang pergi? Ke mesin pencari bukan? Ke Google?

Di ponsel pakai duckduckgo. Mesin pencari kreasi Rusia. Tiongkok ada sendiri. Kalau di komputer ini pakai Google model penyamaran tanpa masuk akun. Selalu begitu. Termasuk saat riset kata ketika menerjemah.

Begitulah gambaran dunia kedua. Dunia maya yang arus informasi dan pengetahuan dikendalikan oleh Google.

Adam Ruins Everything – Why Facebook Isn’t Free
Kenapa Facebook itu Gratis https://www.youtube.com/watch?v=d3rS7I6Xyz8

Gambaran video di atas, tidak hanya berlaku untuk FB saja. Termasuk yang lain di dunia maya ini. Pernah dengar “Data is a new currency“? Termasuk berlaku juga untuk mesin pencari.

Facebook yang Menciptakan Dunia Ketiga

Masuk ke inti tulisan. Dunia ketiga.

Generasi saya pasti kenal Friendster. Media sosial sebelum Facebook populer.

Seiring mengguritanya Facebook, hampir setiap orang tidak bisa terlepas dari Facebook. Seperti orang tidak bisa terlepas dari Google, GMail, Android, Peta Google, atau YouTube. Yang ke semuanya itu ada di bawah payung Alphabet Inc.

WhatsApp from Facebook

Facebook tidak salah mengakusisi WhatsApp. Kalau tidak salah ingat, para pendiri Facebook “berantem” karena beda ideologi. Satu orang ingin menjaga privasi, yang lain malah memanfaatkan data pengguna.

Kalau tidak ada tulisan “WhatsApp from Facebook” yang muncul saat membuka WhatsApp atau WA, pasti pengguna biasa tidak tahu. Tidak tahu efek viral saat membuat story di WA, saat membuat status di WA.

Sama halnya Instagram.

Google Plus Kalau Dari Facebook

Google sempat berusaha mengalahkan rivalnya di dunia maya, Facebook. Dengan membuat media sosial pesaingnya, Google Plus atau Google+ atau G+. Namun akhirnya ditutup. Kalah saing. Kalau tidak salah 2019 lalu dan hanya bertahan 5-7 tahun saja.

Lalu Google juga berusaha membuat pesaing WhatsApp juga. Google Duo kalau tidak salah. Lalu saat corona ini, Google terlambat bersaing dengan Zoom. Google Meet. Mungkin masih bisa bersaing saat ini.

Biar gampang jelasin tulisan ini. Pakai diagram saja ya.

Dunia Ketiga itu Grup Facebook dan Grup WhatsApp

Ada banyak masuk ke grup Facebook. Namun hanya dua grup yang sering dibuka dan diikuti. Grup lain tidak ada. Dibuka kalau perlu saja.

Grup Facebook Tertutup atau Private

Mungkin 50% lebih grup yang diikuti itu model grup tertutup. Grup yang tidak dikenal oleh Google. Sayangnya lagi, ada salah satu grup favorit saya adalah grup tertutup. Sungguh sayang sekali.

Padahal di grup tersebut, ada banyak komentar yang bisa dijadikan informasi. Bahkan bisa dijadikan referensi ilmiah. Meski komentar tersebut pendek, komentar itu berdasarkan pengalaman bertahun-tahun. Bisa dijadikan rujukan.

Sungguh sayang ketika kita menulis komentar panjang-lebar di grup Facebook lalu informasi itu hanya dibaca oleh orang di dalam grup tersebut. Waktunya hanya sebentar. Setiap ada kiriman terbaru, kiriman lama akan terkubur ke bawah.

Sungguh sayang ketika ada orang awam bertanya di grup FB tertutup lalu dijawab oleh seorang professor. Jawabannya bisa dijadikan pegangan namun yang baca hanya satu atau dua orang.

Sama Dengan Grup WhatsApp

Grup WhatsApp malah lebih parah. Menggulir alias nyekrol halaman ke atas itu adalah pekerjaan langka pengguna WhatsApp. Belum lagi keterbatasan WhatsApp yang memang bukan diperuntukan sebagai “ruang diskusi” tapi lebih kepada fungsi komunikasi.

Arus Hoaks

Dalam minggu ini ada berita kalau banyak perusahaan besar mencabut biaya iklan di Facebook. Google awalnya hidup dari iklan juga. Facebook mirip Google untuk “bertahan hidup”. Dari iklan juga.

Arus duit dihentikan ke Facebook atau FB karena banyaknya informasi negatif tersebar di sana. Mungkin bagi pengguna FB awam ini informasi baru. Padahal para pemain dunia maya sudah lama bermain di sini. Termasuk di WA. Apalagi musim pilpres. Entah di negara 62 atau di negara lain.

Para orang yang umurnya sudah tua di grup keluarga ayah pasti tidak paham ini. Bagaimana hoaks itu disebarkan. Bagaimana mungkin menegur orang sepuh yang suka membagikan informasi tidak jelas di grup WhatsApp? Itu sebabnya, meski itu grup keluarga, ingin sekali keluar.

Facebook Dijewer Terus

Jujur saja, kalau tidak ada kepentingan di Facebook, mungkin akun saya sudah saya hapus. Sayangnya ada kepentingan dengan developers.facebook.com.

Facebook itu nakal.

Sempat dia bermasalah skandal data pelanggan. Itu 2019. Lalu 2020, minggu lalu soal rasisme. Itu hanya gunung es. Sudah jadi rahasia umum cara mudah menyebarkan hoaks yaitu dengan media sosial. Apalagi kalau bukan FB. Lalu ditambah bumbu WA.

Entah ketinggalan berita atau tidak, Google belum “senakal” itu.

Ada sisi gelap lain. Cukuplah ini saja.

Kita Jugalah yang Mengurung Ilmu Pengetahuan

Ide sudah habis untuk menulis tentang ini. Saatnya proses penyuntingan.

Salah satu motivasi saya membangun ini, supaya mereka yang profesinya mirip dengan saya, mau bergabung. Agar komentar yang mereka tulis di grup Facebook tertutup, manfaatnya lebih banyak. Lebih banyak yang membaca dan bisa ditemukan mesin pencari.

Alasan untuk keluar dari grup WhatsApp dan mengurangi grup, sama. Itu juga.

Terima kasih sudah membaca tulisan konyol ini.

Maaf kalau tulisannya ini tidak urut dan tidak sistematis. Kalau sistematis, bisa lama menulisnya. Maaf kalau tulisannya tidak banyak tautan referensi atau link. Waktu akan bertambah lama lagi mencari itu.

Contoh tulisan yang panjang sampai menghabiskan waktu lima hari dan waktu risetnya beberapa bulan ada di sini.

Ada banyak ide sambungan tulisan ini. Tapi sudahlah. Menulis tulisan yang berat-berat lalu tidak jelas ini tidak mudah. Lebih mudah bikin stories di WhatsApp dan membuat status tidak penting di Facebook. Atau malah membagikan hal yang absurd di grup WhatsApp. Alasan kenapa Instagram populer. Gambarnya lebih enak dilihat dibandingkan membaca tulisannya.

Matt Mulenweeg WordPress

Saat menyunting tulisan ini, jadi ingat dengan video dari “Bos WordPress” Matt Mullenweg. Idenya sepertinya hampir mirip dengan tulisan ini. Kirimannya ada di https://ma.tt/2019/03/a-meditation-on-the-open-web/ yang hanya menampilkan video ini https://www.youtube.com/watch?v=pB5gaJloeRU.

Default image
Ridha Harwan
Penjual jasa penerjemah Inggris ke bahasa Indonesia dan Indonesia ke bahasa Inggris. Cek profil di sini atau tombol media sosial di bawah ini. Terima kasih atas kunjungannya.

2 Comments

  1. Facebbok sudah bukan sebagai media sosial seperti seharusnya, tapi sudah menjadi sebuah syarat wajib bagi orang-orang yang mulai mengenal Internet.

    Dibanding memilih sosial media mana yang akan mereka gunakan pertama kali, mereka lebih mengikuti stereotype bahwa ” setiap orang harus punya facebook biar kelihatan gaul dan ngga gaptek ”

    Padahal sudah banyak yang beralih dan meninggalkan facebook karena banyak media sosial lain yang lebih seru.

Leave a Reply

tarjiem.com adalah blog dan lapak jasa penerjemah bahasa Inggris ke Indonesia dan Indonesia ke Inggris.

Bandung - Jawa Barat

WhatsApp: +6285210384502