Sedikit Mengkaji Kesalahan Bahasa Kasus Pak BW

Sedikit Mengkaji Kesalahan Bahasa Kasus Pak BW

Pada akhir Januari 2015, Bangsa Indonesia tiba-tiba dihebohkan oleh penangkapan salah satu “wakil jenderal” Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Banyak yang mengatakan kalau proses penangkapannya kurang “etis”. Pak Bambang Widjojanto (BW) ditangkap pada saat mengantar anaknya ke sekolah. Namun tidak selang beberapa hari, saat tulisan ini dibuat, akhirnya Pak BW pun dilepas.

Saya masih ingat sebelum pemberitaan Pak BW ini menjadi heboh, media nasional ramai-ramai memberitakan musibah kecelakaan pesawat penumpang AirAsia QZ8501 yang terjadi pada akhir Desember 2014. Seolah-olah berita tersebut tenggelam dengan pemberitaan salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Bambang Widjojanto (sumber:tribunnnews.com)
Bambang Widjojanto (sumber:tribunnnews.com)

Ada yang menarik dari artikel yang baru saya baca pagi ini. Dari tulisan tersebut pula lahir tulisan ini. Saya akan mengkajinya dalam ranah saya, ranah bahasa dan terjemahan. Tulisan tersebut yakni “Bila Mendadak Anda Ditangkap Polisi (Belajar dari Penangkapan Bambang Widjojanto)“.

Sebuah Kesalahan Bahasa Yang kecil dan Mungkin Berakibat Fatal

Saya mengutip dari tulisan yang menjadi tajuk utama pagi ini di kompasiana.com. Dalam tulisan tersebut ditulis,

Rupanya ketika pertama kali ditangkap, BW mencermati isi surat penangkapannya secara teliti.

“Ternyata Surat Perintah Penangkapan yang disampaikan kepada saya tempat tinggalnya salah, tertulis Kelurahan Cilodong dan Kecamatan Sukmajaya, seharusnya Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Cilodong”.

BW melanjutkan, “Surat Perintah Penangkapan yang saya dapatkan berbeda dengan Surat Perintah Penangkapan yang diperlihatkan kepada saya sebelumnya di depan Ceria Mart, Kelapa Dua, sebelum saya diborgol. Perbedaannya itu, yang diperlihatkan kepada saya, yaitu Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sukmajaya, yang saya dapatkan sekarang ini Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukmajaya.”

Nah loh. Coba perhatikan kutipan di atas. Ternyata surat penangkapan salah satu orang yang pernah menjadi pengacara dan bergelar Doktor hukum lalu menjadi wakil ketua KPK ini ada kesalahan kecil. Salah alamat. Seperti lagu ayu ting-ting. Terbayang dong kalau surat perintah penangkapan saja sudah ada kesalahan alamat siapa yang harus ditangkap. Bisa-bisa salah orang lagi yang ditangkap.

Alamat rumah Pak BW seharusnya adalah “Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Cilodong”. Kecamatan di dalam kecamatan, lebih lanjut lihat di Wikipedia. Namun dalam surat penangkapan itu tertulis “Kelurahan Cilodong dan Kecamatan Sukmajaya”

Cermat dan Teliti dalam Bahasa Tulis

Kelebihan bahasa tulis dibandingkan bahasa lisan yakni kita bisa mengkonsep terlebih dahulu apa yang akan kita ucapkan. Itulah mengapa biasanya para presiden lebih banyak memilih untuk membaca teks pidato ketimbang langsung menyampaikan langsung. Terlebih di momen-momen kenegaraan yang penting dan resmi. Apa yang akan kita sampaikan akan lebih terkonsep dan terarah. Selain itu juga hal ini juga menghindari salah maksud dalam penyampaian apa yang ingin kita ucapkan.

Apa loe bilang Kualifight? Kuali?
Apa loe bilang “Kualifight”? Kuali … ?

Selain kelebihan yang dimiliki oleh bahasa tulis ada juga tantangan yang dihadapi oleh bahasa tulis ini. Salah satu tantangan yang dihadapi bahasa tulis yakni menghindari “saalh keitk”, salah ketik. Istilah Bahasa Inggris yang populernya adalah typo. Dikarenakan bahasa tulis itu bisa lebih terkonsep, maka jelas sekali faktor salah ketik ini harus dihindari sekali. Karena itu diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam membuat konsep bahasa tulis. Tidak hanya konsep saja, namun juga informasi yang disampaikan juga harus benar.

Bahasa Tulis dan Penerjemah Bahasa

Mau coba perawatan "horny"?
Mau coba perawatan “horny”?

Salah satu tantangan kecil namun fatal dalam dunia terjemahan bahasa adalah salah ketik. Seorang penerjemah bahasa “haram” hukumnya melakukan salah ketik, apalagi salah terjemahan. Bisa-bisa cilaka. Karena itulah terkadang seorang penerjemah membutuhkan pihak lain, biasanya editor atau proofreder, untuk memeriksa ulang hasil terjemahannya. Terlebih lagi itu adalah dokumen yang sangat penting sekali. Bisanya akan ada 3 pihak yang terlibat, penerjemah, editor, dan proofreader.

Penutup

Bahasa Indonesia merupakan bahasa milik kita. Terkadang banyak yang tidak “sayang” dengan Bahasa Indonesia. Itulah mengapa dalam tulisan saya di “Apa Ada Tips Tersendiri Untuk Belajar Bahasa Inggris?“, saya sangat menekankan betapa pentingnya kita memahami bahasa kita sendiri sebelum kita berpaling ke bahasa asing. Semoga bermanfaat.

71 thoughts on “Sedikit Mengkaji Kesalahan Bahasa Kasus Pak BW

  1. beuh sedikit omgongan salah udah langsung bisa dipenjara aje ya mas sekarang.. kata kata kasar pun bisa dipidana yaa.. apalagi kesalahan bahasa walau cuma satu kata.. aduh harus benar2 hati2 kita sebagai penulis ya mas

  2. betul ya mas..
    bahkan orang indonesia jauh lebih “inggris” daripada orang inggris itu sendiri,,
    saking parahnya lagi,,orang inggris itu sendiri pun tidak mengerti akan keinggrisan orang indonesia itu sendiri..

  3. kalau dilihat dari isi suratnya emang sepertinya salah alamat ya, apalagi itu surat penting… sekarang saya jadi tau istilah typo.. hahaha. sya juga sering typo kalo ngetik pakai hp touchscreen…

  4. wah wah wah
    surat perintahnya saja salah, hemmmm pak president harus bisa tega nie dan juga para penyelidik semoga bisa membongkar kasus yang sebenarnya terjadi…. artikel yang bermanfaat mas harwan

  5. jangan-jangan surat penangkapannya juga salah orang tuh.. heheee.. ya apapun itu semoga yang bersangkutan atau pun yang disangkut-sangkutkan bisa menerima dengan nasibnya,, terus terang saya tidak peduli dengan para pengkhianat rakyat ini..

  6. yang jadi runyam itu penangkapan yang sebenarnya juga gak siap…malah polisi hanya tangkap dari laporan salah satu kader PDIP, dan polisi juga malah masih mengkaji permasalahannya, tapi langsung tangkap….itu juga peluang kesalahan yang seharusnya tidak terjadi dalam kasus penangkapan.

  7. Good info Mr Ridha,
    Bahaya juga kan jika tersalah ketik (typo error)…maksudnya kadang-kadang jadi lain.
    Sebab tu juga ‘layers of checking’ sangat penting. Contohnya ada si penulis, editor dan proof reader…supaya hasilnya lebih sempurna.

    p/s : maaf ya..komentar saya bahasanya campur-campur.. :)

  8. namanya Kepolisian Republik Indonesia, mana sanggup mengakui kesalahan, pasti para ahli tata bahasa sedang dicari-caripolisi bukan untuk ditangkap tentunya, tapi diminta bantuannya untuk mencari alasan yang tepat atas kesalahan tersebut diatas.

    polisi gitu loch

  9. Kirain tadi mau bahas perihal penangkapan BW, ternyata lebih menitikberatkan tata bahasa. Penerjemah gitu, lho. :D
    Sama kayak komentar mas Dory, saya merasa janggal dengan penangkapan BW ini, terkesan ada balas dendam.

  10. tadinya mau demo pada pak polisi lewat komentar di artikel ini, ternyata tukang surat kepolisian salah tulis alamat ya. habis judul artikelnya menarik banget . padahal itu instansi tertinggi loh bukan aparat erwe sama hansipnya..

  11. hahah mangkin menarik saja kasus BW ini pak. Bahasa indonesia sama seperti bahasa arab, atau bahkan semua bahasa di dunia , salah harakat salah , salah baca, salahpula artinya, tentu salah isinya, ada baiknya menulis dengan cermat dan teliti ya pak. mantap pencerahannya hari ini, maaf baru datang disini, saya lumayan sibuk di dunia nyata, jadi hanya auto post saja,

  12. saya sih kurang mengerti sama kronologis nya, di BBM atau di medsos semua membicarakan masalah polisi dan KPK, ma’lum saya jarang nonton tv jadi kurang tau berita terbaru nya. kalo di lihat dari riview di atas ternyata selah sedikit pun bisa berakibat fatal ya kalo kita nya ga teliti

  13. penerjemahan bahasa kadang memeng susah, apalagi menerjemahkan kata atau kalimat yang mempunyai arti khusu…tapi kalau sampai kesalahan keluarahan dan kecamatan, itu parah juga…coba kalau kamu kirim surat, pasti gak nyampai tuh….hal ini sering terjadi di beberapa daerah di indonesia mas….mereka menganggapnya hal biasa dan santai aja tuh…coba kalau menulis korusi 1.000.000.000.000,- salah karena kurang nolnya satu akan menjadi 100.000.000.000,- kan jadi nyaman koruptornya,,,,apakah ini juga biasa…inilah fenomena di indonesia yang sering terjadi….tapi yang muantab lagi tuh adalah ….. “dindik banten siapkan lulusan smk kualifight”…saya sama istri saya jadi terbahak-bahak mas bacanya…..hehehee

      • kalau itu sih mbha memang ada unsur kesengajaan ingin korupsi, dengan ali-ali khilaf menuliskan dan menambahkan 1digit nol lagi, jadinya sisinya sudah masuk kantong sendiri, hehe..

        mungkin karena terburu-buru atau ingin segera diterbitkan, seperti halnya kita menulis dalam blog, karena ingin cepat akhirnya sangat jarang sekali membaca ulang tulisan tersebut, bisa saja ada kalimat yang salah ketik, sehingga tanpa kita sadari mengartikan pada sesuatu hal yang berbeda. pengunjung jadi kabur dech karena kurang paham atas bahasa yang mereka baca.

  14. itu sebenarnya bukan masalah kecil(menurut saya) mas.
    kadang karena kesalahan satu hurup saja bisa menjadi masalah apalagi sampai kesalahan nama kelurahan dan kecamatan.apalagi ini dilakukan untuk orang yg faham hukum

  15. Turut prihatin atas apa yang di alami Pak BW ini. Entah kenapa kok saya lebih merasa kasus pak BW lebih bernuansa “balas dendam” ya daripada penegakan hukum. Tapi ndak tahu juga sih, semoga kasus Pak BW ini bisa cepat di selesaikan. :D

    • Semoga yah Mas Dory. Saya sebenarnya agak malas kalau sudah ngomongin politik. Berhubung ada aspek bahasa yang bisa dibahas. Saya ambil aspek bahasanya saja. Kalau bukan KPK, siapa lagi yang mau dipercaya buat gantungin para koruptor. :)

Leave a Comment