Ketika Seorang Bloger Jadi Youtuber

Ketika Seorang Bloger Jadi Youtuber

Pada saat menulis ini, baru saja menyelesaikan satu buah video. Sedang proses rendering. Inspirasi video ini terkait dengan tulisan kategori bloger sebelumnya. Mengenai kecepatan sebuah situs versi Google PageSpeed Insight 100/100.

Tadinya mau membuat sambungan dari tulisan itu. Cuma sadar, kalau tulisan dua tahun lalu saja, hampir 7 hari membuatnya. Banyak sekali sumber rujukan dan gambar yang harus diproses.

Gara-Gara Ingat Ponsel Ada Mikrofon

Sore hari muncul ide. Kenapa tidak membuat video saja. Baru terpikirkan, kan ponsel android ini punya mikrofon atau perekam suara. Tidak perlu kamera wajah atau facecam/face camera. Cukup suara saja. Ketika dicoba, ternyata mikrofon ponsel pintar ini cukup bagus hasil suaranya.

Deg-Degan

Baru mulai duduk di depan komputer, pukul 10 pagi. Sudah siap-siap jadi profesi kekinian, Youtuber. Ternyata susah juga di awal. Saat perekam suara aktif dan perekam layar komputer sudah aktif, bingung mau mulai berkata apa. Entah mau ucapkan salam atau apa.

Hampir 10 detik lebih mulut ini kaku mau bicara apa. Ternyata sadar, jadi Youtuber itu perlu kepercayaan diri yang tinggi sekali. Padahal baru wajah tidak terlihat, hanya suara saja.

Banyak Gangguan Ternyata

Ternyata, jadi Youtuber itu perlu ruangan kedap suara. Mirip ruangan studio musik. Dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang, ada saja gangguan. Mulai dari tetangga, motor lewat, pintu terbuka-tertutup, sampai suara masjid yang memutar suara orang mengaji menjelang azan. Kesal iya.

Baru jam dua siang sudah agak tenang. Itu juga setelah melalui proses kesalahan perekaman berulang-ulang. Perekam suara sudah jalan sampai 20 menit lebih, eh perekam layar komputer tidak jalan. Ulang lagi.

Hasil Video Mentah 40 Menit Lebih

Pada saat selesai, tidak terasa video cuap-cuap sudah 40 menit lebih. Bisa-bisa video ini menghabiskan kuota penonton. Padahal kalau melihat standar video di Youtube itu 10 menit.

Selesai proses rekaman sekitar jam empat sore. Lanjut masuk tahap penyuntingan.

Menulis dan Membuat Video Sama-Sama ada Proses Penyuntingan

Tadinya berfikir, proses penyuntingan atau editing video itu lebih cepat. Ternyata lebih lama dibandingkan menulis. Mana ada proses sinkronisasi dulu antara suara dan gambar. Soalnya rekaman gambar dan suara terpisah.

Jadinya lama. Baru selesai pukul 10 malam. Ini sih sudah hampir sama dengan tahap penyuntingan akhir menulis di blog sebelum dipublikasi.

Belum lagi ada proses “rendering”, menjadikan olahan video mentah jadi video jadi. Belum lagi ada proses mengunggah video. Cape deh.

Dugaan tidak salah juga ternyata. untuk menjadi seorang YouTuber itu bukan modal ponsel saja. Materi perlu juga. Keahlian menyunting juga perlu. Belum lagi akses internet dan spesifikasi komputer.

Sisi Positif Jadi YouTouber ala Bloger

Selama ini sudah terbiasa menulis. Mengoceh-ngoceh dalam bentuk teks. Pada saat disuruh mengeluarkan suara, langsung gugup. Langsung terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Namun pada saat sudah berjalan dan selesai proses rekaman, hati cukup lega. Ternyata ada peningkatan kepercayaan diri.

Setidaknya tahu dan bisa mendengar sendiri, bagaimana sih intonasi dan pemilihan kata-kata. Pada saat penyuntingan video, video beberapa kali diputar untuk mendengar kekonyolan suara sendiri.

Mungkinkah Seorang Bloger Beralih Menjadi YouTuber?

Mungkin saja. Apa sih yang tidak mungkin. Namun buat saya pribadi, ini hanya sebagai pengisi waktu luang. Video yang baru dibuat juga merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang kalau ditulis dalam bentuk teks akan menjadi panjang dan lama.

Selain itu sisi positif lainnya, setidaknya bisa memunculkan percaya diri dan melatih kefasihan berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Terakhir
Tulisan bloger vs youtuber di atas dibuat pada tanggal 15 Agustus 2019. Malam hari saat proses rendering. Lalu baru dipublikasi pada 19 Agustus 2019. Ternyata hasil rendering video hanya tiga 3 detik. Kesalahan baru diketahui lima hari kemudian. Baru video yang dimaksud bisa diunggah ke Youtube.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.