Kesamaan Kasus Mirna Dengan Kasus Basuki Tjahaja Purnama

Weits, cetar membahana tulisan ini. Iya, tulisan ini ditulis persis saat KangBro Basuki Tjahaja Purnama ditetapkan jadi tersangka atas kasus penistaan agama pada hari ini, Rabu 16 Oktober 2016. Sebenarnya ogah ikut-ikutan dengan dunia yang beginian. Tapi kebetulan dalam dua kasus terbaru yang ramai di dunia maya dan media elektronik ini, ada sebuah kesamaan yang menarik untuk dibahas di lapak terjemahan ini. Hitung-hitung juga menambah tulisan kategori dunia bahasa di blog ini.

Kesamaan kasus yang membuat masyarakat Indonesia bisa gagal fokus itu adalah dari sudut bahasa. Baik kasus es kopi Vietnam Wayan Mirna Salihin dan kasus penistaan agama Akang Basuki, dua-duanya ada keterlibatan bidang bahasa di sana. Saat sidang Wayan Mirna Salihin masuk tipi, ada penerjemah bahasa yang hadir. Tepatnya juru bahasa (interpreter) Inggris Indonesia. Dalam kasus Bro Basuki ini malah lebih kental lagi ilmu kebahasaan yang hadir. Tepatnya dalam bidang interpretasi dan analisis wacana kritis.

Wayan Mirna Salihin Es Kopi Vietnam

Saluran televisi warna merah yang katanya sahamnya sempat anjlok di kala Pemilu 2014 lalu, setia sekali menayangkan kasus Ibu Mirna ini. Sebuah strategi cara penghematan operasional yang luar biasa dibanding harus membayar artis mengisi tayangan televisi mereka. Luar biasanya, kadang acara sidang kasus Wayan Mirna Salihin terkadang disiarkan hampir setiap hari. Dari ayam berkokok, sampai ayam masuk kandang kembali.

Wayan Mirna Salihin, Terdakwa kasus pembunuhan Jessica Kumala Wongso

Wayan Mirna Salihin, Terdakwa kasus pembunuhan Jessica Kumala Wongso via indopos.co.id

Mungkin ada beberapa masyarakat yang sadar saat menonton kisah nyata yang ditayangkan secara langsung ini. Ada juru bahasa yang hadir membantu menerjemahkan beberapa saksi ahli sidang kasus Ibu Mirna ini. Sebut saja ada beberapa penerjemah Inggris Indonesia hadir membantu menerjemahkan saksi ahli di bidang patologi forensik asal australia, Profesor Beng Beng Ong. Ada juga penerjemah yang membantu saksi dari kepolisian Australia, John Jesus Torres dalam sidang Ibu Mirna ini.

Ada kegemparan yang menarik di grup teman-teman Himpunan Penerjemah Indonesia saat Ibu Yuliani Tansil menjadi juru bahasa Mr. John Jesus Torres. Saat itu Hakim meminta credential dari Ibu Yuliani. Ibu Yuliani pun mengajukan sertifikat dari HPI. Pemilik tanda tangan yang muncul di atas sertifikat itu, sedikit berbagi cerita, kalau beliau berdebar juga saat sertifikat itu diberikan kepada majelis Hakim. Selama 5-7 tahun ke belakang ini masyarakat umum cenderung memahami soal penerjemah tersumpah (sworn translator). Padahal 2-3 tahun belakangan ini sudah muncul istilah penerjemah bersertifikat.

Basuki Tjahaja Purnama Tersangka Penistaan Agama

Mari masuk ke bahasan yang lagi heboh di linimasa Facebook pagi ini, Om Basuki Tjahaja Purnama. Ramai status yang bersyukur kalau Om Basuki ini menjadi tersangka penistaan agama. Dijadikannya Bro Basuki ini menjadi tersangka juga bersamaan saat periode kampenye Kakak Basuki ini. Abang Basuki maju menjadi calon Gubernur DKI untuk Pilkada 2017 nanti.

Hal yang membuat keren kasus penistaan agama ini adalah saat momen 411 yang lalu. Ribuan orang tumpah ruah turun ke jalan di Jakarta, meminta kebijakan PakDe untuk mengurus kasus Bro Basuki ini. Akhirnya setelah momen 4 Oktober (4-11) 2016 yang lalu, terlihat di halaman Facebook PakDe, beliau melakukan kunjungan ke beberapa markas aparat termasuk mengundang para ulama secara maraton. Entah ada hubungannya atau tidak, entahlah.

Dari segi kebahasaan kasus Om Basuki ini cukup unik. Poin awal kasus ini ada pada transkrip hasil ucapan Pak Gubernur yang dimulai sekitar menit 24 dan detik 19. Saat mencoba mendengarkan detik krusial pengucapan Al-Maidah 51, ada bagian yang hilang atau tidak jelas terdengar. Ada satu kata yang sedikit kurang jelas persis sebelum pengucapan Al-Maidah 51.

Hadirnya Analisis Wacana Kritis

Ilmu bahasa yang bernama Critical Discourse Analysis (CDA) atau Analisis Wacana Kritis (AWK) ini termasuk ilmu yang keren. Hanya menggunakan satu kalimat saja, maka penjelasan penafsiran kalimat atau frasa tersebut bisa berlembar-lembar banyaknya. Tidak heran kalau dengan data satu lembar teks pidato saja, bisa membuahkan hasil desertasi atau thesis.

Pisau Bedah Kedokteran, saat Dokter Mulai Operasi via pixabay

Pisau Bedah Kedokteran, saat Dokter Mulai Operasi (ilustrasi)

Hanya saja AWK ini boleh dibilang kompleks. Akan banyak muncul berbagai penafsiran atas kata kunci yang yang diucapkan MasBro Basuki ini. Banyak variabel yang akan hadir dalam menjelaskan penafsiran sebuah kalimat. Semakin banyak variabel, semakin panjang penjelasannya. Mungkin variabel konteks adalah variabel yang sangat penting, sebagaimana variabel saat kegiatan translate.

Beda orang, maka akan berbeda pula penafsirannya. Sama halnya dengan hasil pendengaran ucapan yang didengar dalam video penuh MasBro Basuki. Belum lagi bisa jadi melebar kepada teori apa yang akan digunakan untuk membahas dan membedah penafsiran ini.

Bacaan Lainnya: Ridwan Kamil dan Ahok Ternyata Bisa Galau Juga

Seperti menangkap ikan di kolam dengan tangan tanpa melihat. Ikannya sudah pasti ada di dalam kolam (ucapan Al-Maidah 51). Hanya sang ikan tinggal menggeliat menghindari tangan yang akan menangkap atau menjeratnya. Pak Basuki menjadi tersangka penistaan agama cukup wajar, lantaran secara jelas dan terang-terangan Om Basuki menyebut “Al-Maidah 51.” Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba kata kunci Al-Maidah 51 meluncur keluar.

Hanya saja apa mungkin ia kena jeratan penafsiran atas ucapannya? Terlebih hasil pembuatan transkrip atas ucapannya sangat krusial. Bagian penetapan dimana koma atau titik diletakkan, sangat penting sekali di sini. Apalagi pembentukan paragraf/kalimat/frasa saat mendekati ucapan Al-Maidah 51.

Sebagai rakyat kecil, cukup duduk manis saja menanti hasil pelem yang sedang heboh ini.

3 Comments

  1. Komunitas Bahasa 7 Desember 2016 12:45
  2. fakta solo 17 November 2016 16:44

Leave a Reply