Dunia AGC Versi Ilmu Bahasa (Auto-Generated Content)

Gara-gara membaca empat pertanyaan tentang berapa pengunjung blog AGC (Auto-Generated Content atau Auto Generated Content atau Automatically Generated Content) per harinya, jadilah iseng-iseng buat tulisan ini. Dalam ranah dunia blogger, AGC sendiri adalah tingkatan dimana para ‘pemainnya’ sudah harus mengenal VPS, minimal hos berbagi. Artinya, wordpress.org lah yang umum digunakan dalam dunia AGC.

Apa Itu AGC?

Jika istilah AGC diterjemahkan secara literal ke dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih “Isi atau Konten yang Dibuat secara Otomatis”. Isi situs (konten blog) yang dimaksudkan di sini secara umum adalah tulisan atau teks, bisa juga gambar, video, audio, dsb. Jadi kalau terjemahan AGC versi saya yakni “Isi Otomatis Dibuat “. Sehingga definisi AGC adalah teknik menyajikan isi secara otomatis.

Di dunia maya, AGC ini mengalami kontroversi. Beberapa ada yang setuju, beberapa ada yang tidak. Wajar saja, karena AGC ini sendiri mengambil tulisan (konten) asli yang diracik oleh manusia lalu diolah kembali untuk ditampilkan ulang dengan tampilan yang berbeda namun isinya sebenarnya tetap sama. Jadi secara gamblangnya, AGC itu adalah situs salin-rekat (copy-paste).

Situs AGC Dan Beritagar.id

Silakan kunjungi halaman  penjelasan apa itu situs beritagar.id di https://beritagar.id/tentang-kami. Situs ini lahir dari improvisasi dari situs social bookmarking lintas.me. Arsip penjelasan lengkap tentang situs beritagar.id saat tulisan ini ditulis tanggal 11 Januari 2016 ada di sini.

Apa itu situs beritagar.id?

Apa itu situs beritagar.id?

Paragraf penting dikutip dari tulisan tersebut sebagai poin dasar pembahasan mengenai AGC dan hubungannya dengan teori ilmu bahasa.

Dikembangkan oleh Rekanalar, melalui ilmuwan komputer Jim Geovedi yang kini menjabat sebagai Direktur Penelitian, sejak November 2013 teknologi berbasis Machine Learning (ML) dan Natural Language Processing (NLP) ini pertama kali diujicobakan pada situs kurasi berita, Beritagar.com.

Selain munculnya nama tokoh yang terkenal di bidang keamanan dunia maya, Jim Geovedi, ada istilah lain yang sangat menarik dalam ranah dunia lapak dan blog jasa terjemahan saya ini. Istilah Machine Learning (ML) itu adalah ranah dunia para ahli pemograman (programmer/ Ahli Coding). Kurang lebih istilah Mesin yang terus Belajar (Machine Learning /ML) dalam dunia SEO itu seperti Algoritma Binatang Peliharaan Google yang terus diperbarui.

Istilah lain yang terkait erat dengan AGC dalam teori ilmu bahasa yakni Natural Language Processing (NLP). Istilah Pemrosesan Bahasa Alami atau PBA (Natural Language Processing atau NLP) adalah bidang kajian para ahli ilmu bahasa, ahli linguistik (linguist). Dengan kata lain, situs beritagar.id ini adalah salah satu produk bidang keilmuan antara NLP dan ML atau bisa juga dikatakan sebagai salah satu contoh situs AGC.

Hubungan Antara AGC dan Teori Ilmu Pemrosesan Bahasa Alami (PBA atau Natural Language Processing)

Salah satu cabang kajian teori ilmu bahasa (linguistik) adalah Linguistik Komputasi (Computational Linguistics). Lingustik komputasi sendiri adalah perkawinan silang antara ilmu bahasa dengan ilmu komputer dan bahasa pemogrgraman. Salah satu hasil produksi yang terkenal dari ilmu linguistik komputasi itu sendiri adalah Google Translate.

Gambar Diagram Ilustrasi Penjelasan Pemrosesan Bahasa Alami (PBA atau Natural Language Processing)

Ilustrasi Penjelasan Pemrosesan Bahasa Alami (PBA atau Natural Language Processing) gambar: semanticsoftware.info

Salah satu cabang linguistik komputasi ini yakni bidang kajian Pemrosesan Bahasa Alami (PBA atau Natural Language Processing/NLP). Bidang kajian PBA ini sendiri termasuk kategori yang masih baru di Indonesia, mungkin populer sekitar 5-10 tahun belakangan ini. Kajian pemrosesan bahasa alami ini sendiri kurang lebih mengenalkan komputer kepada teori linguistik mikro. Kajian lingusitik mikro itu kurang lebih seperti ilmu gramatika bahasa, ada kata kerja (verba), kata benda (nomina), kata sifat (ajektiva) dsb. Persis seperti kajian ilmu yang mencoba mengawinkan antara binatang darat dengan binatang terbang.

Menciptakan Robot yang Mampu Mengenali Cita Rasa Makanan

Jika boleh saya menggambarkan secara analogi, fungsi kajian pemrosesan bahasa alami dalam kaitannya dengan AGC ini seperti membuat berusaha menciptakan sebuah robot. Robot ini diharapkan mampu mengenal rasa sebuah makanan. Jika makanan ini memiliki cita rasa pedas, maka robot ini akan memberitahu kalau makanan ini rasanya pedas.

Jika sebuah makanan ini rasanya manis, maka robot itu mampu memberitahu kalau makanan ini rasanya manis. Sebagai contoh, jika masakannya manis, maka algoritma PBA menganggap kalimat itu adalah jenis kalimat pasif atau ada kata sifat (adjektiva) di dalam kalimat tersebut.

Gambaran yang sesuai dengan penjelasan ini mungkin seperti film tema masa depan yang berjudul iRobot atau CHAPPiE. Film tersebut mampu memberi gambaran tentang robot (agc) yang mampu mengenali perasaan (keterbacaan).

Teknik AGC itu Juga Perlu Dipoles Agar terlihat alami

Sama halnya dengan hasil terjemahan google translate, jika ingin terlihat alami maka hasil produksi AGC perlu dipoles ulang. Wajar saja kajian ilmu pemrosesan bahasa alami hadir dalam rangka mendukung teknik AGC ini. Hanya saja memang, terkadang teknik AGC ini dilakukan secara masif dalam waktu yang singkat, sehingga agak sulit membuat alami konten terlihat alami. Apalagi jika dilakukan secara sendirian. Wajar saja situs beritagar.id di atas memiliki tim dalam memoles hasil pemberitaan yang diambil dari berbagai sumber.

Film Tentang Robot Masa Depan, Chappie

Film Tentang Robot Masa Depan, Chappie (gambar: tribute.ca)

Sebenarnya, salah satu orang terkaya di dunia yang juga ahli komputer, Bill Gates, sudah lama memprediksikan teknik AGC ini. Jadi kalau dibahas secara ilmiah, teknik AGC ini sama halnya bagaimana cara untuk menciptakan robot yang memiliki perasaan (keterbacaan) seperti rasa dan hati seorang manusia.

Penutup Tarjiem (AGC, SEO, Blogger, Ilmu Bahasa dan Lapak Terjemahan)

Ilmu bahasa itu sendiri boleh dikatakan ilmu yang tidak pasti (ilmu sosial). Sedangkan ilmu AGC itu boleh dikatakan adalah ilmu pasti (sains). AGC sendiri tercipta dari kode-kode bahasa pemograman yang dibuat sedemikian rupa hingga mencapai algoritma Kecerdasan Buatan. Jika alogritma AGC yang dihasilkan semakin lihai dalam bermain di ranah SEO, tentu akan semakin mahal program atau teknik AGC yang dihasilkan. Sama halnya bagaimana cara agar hasil terjemahan google translate mudah dipahami? Apakah mungkin?

Kontroversi lain Antara AGC Dengan Lapak Terjemahan

Saya pribadi telah membahas hal ini dalam kaitannya dunia terjemahan saya dengan dunia google translate. Pembahasan ini sudah saya tuliskan dalam tulisan yang berjudul “Antara Tukang Pos dan Jasa Penerjemah Bahasa“. Jika seorang blogger manual memiliki tantangan dengan situs AGC, maka seorang penerjemah juga memiliki tantangan dengan Google Translate.

Tulisan ini lebih tepatnya termasuk kategori Bahasa di blog tarjiem ini. Namun berhubung AGC ini lebih cenderung ada dalam konteks dunia maya dan dunia blogger, maka jadilah tulisan tentang AGC ini saya masukkan kategori SEO. Agar lebih banyak menarik perhatian. Tulisan ini termasuk juga kategori tulisan gak pakai mikir kejar setoran, harap maklum jika banyak kesalahan. Butuh banyak waktu saat membuat sebuah artikel hingga 1.000 kata lebih. Namun dengan AGC, mungkin hanya butuh hitungan detik untuk menghasilkan sebuah tulisan bahkan sebuah situs blog. Keren bukan?

8 Comments

  1. Erwin 22 Mei 2016 05:40
    • Ridha Harwan 4 Juni 2016 14:54
  2. Bayu 15 Januari 2016 11:18
    • Ridha Harwan 17 Januari 2016 22:03
  3. cumilebay maztoro 12 Januari 2016 05:11
    • Ridha Harwan 14 Januari 2016 16:34
  4. Nuhan Nahidl 12 Januari 2016 04:18
    • Ridha Harwan 14 Januari 2016 16:33

Leave a Reply