Dari Blogspot ke Shared Hosting lalu Persiapan ke VPS

Entah apa yang ada dipikiran saya. Seharusnya saya fokus mengerjakan ini. Namun kok satu minggu ini saya malah sibuk mengurus lapak jasa terjemahan ini, khususnya bagian hosting dan themes.

Dulu waktu pertama kali mengenal blog sekitar tahun 2004, blogspot adalah mesin blog yang pertama kali dikenal. Setelah 5 tahun menjadi pengguna blogspot pasif, barulah perlahan-lahan blogspot mulai diberdayakan kembali. Tidak lama setelah itu, setelah menggunakan blogspot produksi blogger dan milik google, perlahan-lahan shared hosting lengkap dengan wordpress.org mulai dilirik. Jadilah akhirnya beralih menjadi pengguna wordpress.org.

Pindah dari Blogspot ke Shared Hosting

Saat pindah dari blogspot ke shared hosting dhyhost, ternyata proses migrasi dari blogger ke wordpress tidak terlalu sulit sekali. Cukup banyak petunjuk cara pindah ke wordpress yang bertebaran di google. Tutorialnya ini tidak terlalu sulit dipahami. Kalau dari segi SEO-nya memang, ada kelebihan blogspot yang tidak dimiliki wordpress. Begitu juga sebaliknya.

Terlebih lagi fasilitas shared hosting yang dilengkapi dengan cPanel, membuat proses perpindahan dan perawatan blog lapak terjemahan ini tidak terlalu sulit. Fasilitas cPanel yang bisa dikatakan memanjakan penggunaya, tidak begitu sulit dipahami dan dioperasikan. Pengguna shared hosting cukup ‘klik-klik’ saja dalam merawat situs atau blog yang dimilikinya.

Ilustrasi shared hosting vs vps vs cloud dedicated hosting via business2community dot com

Ilustrasi shared hosting vs vps vs cloud vs dedicated hosting via business2community dot com

Shared Hosting ke VPS

Sejalan dengan perkembangan blog dan lapak terjemahan ini, maka kebutuhan hosting juga ikut meningkat. Awalnya percaya dengan fasilitas shared hosting namecheap, namun begitu mencoba 3 bulan akhirnya kembali lagi ke dhyhost dengan jenis hosting semi-dedicated.

Memang kelebihan paket semi-dedicated ini membuat kegiatan ngeblog dan ngelapak jasa penerjemah bahasa ini menjadi nyaman. Tidur jadi tenang. Namun dibalik itu ada biaya yang harus dibayar saat menggunakan kelebihan paket shared hosting jenis semi-dedicated yang menggunakan kontrol panel (cPanel) tinggal “klik-klik” saja.

Setidaknya 2-3 bulan terakhir ini, biaya sewa hosting blog ini bisa mencapai 100 ribu rupiah per bulannya. Wajar saja, karena blog ini menggunakan tambahan ip dedicated yang harganya tergolong murah dibandingkan jasa hosting yang lain. Harganya ip dedicated yakni 30 ribu per bulannya dan ditambah 60 ribu untuk paket semi-4 semi-dedicated dhyhost.

Biaya yang cukup besar ini, membuat saya berpikir untuk berpindah ke Virtual Private Server (VPS). Dengan jumlah biaya bulanan yang sama sebelumnya, setidaknya lapak dan blog jasa terjemahan ini bisa mendapatkan lebar pita (bandwith) yang tidak terbatas.

Belajar VPS Ternyata Tidak Sederhana

Seperti dugaan saya, ternyata banyak hal yang harus dipelajari untuk menggunakan fasilitas VPS ini. Memang biaya operasional bulanan VPS ini lebih murah jika kita menggunakan fasilitas hos berbagi (shared hosting). Namun sayangnya dibalik harga murah ini, pengguna VPS dituntut untuk memahami cara menggunakan VPS ini. Harapan dari tulisan ini yakni, semoga proses perpindahan dan perawatan lapak terjemahan ini pindah ke VPS berjalan dengan baik.

Lebih dari itu, semoga pengaruh penggunaan VPS benar-benar memberikan efek yang luar biasa untuk blog ini. Saya sendiri awalnya ingin menggunakan hos awan (cloud hosting), namun tampaknya untuk sementara ini dicoba dulu menggunakan VPS. Penyebab utamanya, kebetulan calon hos baru VPS ini saya memiliki saldo yang cukup besar untuk layanan VPS ini. Saldo ini pun didapatkan secara gratis, sayang sekali jika tidak digunakan.

2 Comments

  1. nurul hasan 26 Desember 2015 12:45
    • Ridha Harwan 26 Desember 2015 18:36

Leave a Reply