Elegi Sebuah Ajakan “Salat Dulu Yuk”

Seharusnya saya tidak menuliskan hal ini. Biarlah hal ini terpendam dalam diri pribadi-pribadi para pejuang cinta. Sebenarnya ini hanyalah cerita kecil. Terjadi hanya dalam sekejap, totalnya kurang dari 15 menit. Sedangkan menulis ini butuh waktu 90 menit lebih. Lumayan buat mikirin thesis. Walau momen ini hanya sebentar sekali, hal ini benar-benar saya rasakan sebagai sebuah hal kecil yang memang seharusnya dikonsistensikan.

Kue 1 Dekade Smanel atau Smunel.

Kue 1 Dekade Smanel atau Smunel (Ilustrasi).

Saya mencoba menuliskan tulisan ini dengan menerapkan kajian sintaksis, morfologi, semantik dan konteks. Mengolah kata seindah kue ulang tahun. Namun rasa kue yang sesungguhnya, akan diketahui pada saat bagian tengah kue tar ini sudah dimakan. Alasannya? Bagi yang mengetahui betul, tentu hal-hal kecil ini tidak akan disampaikan secara terbuka. Kalau pun disampaikan, maka biasanya akan disampaikan dengan senandung syair-syair cinta atau cerita cinta romantis. Terlihat indah, namun sarat dengan makna.

Cerita sejenis yang berhasil saya tuliskan, bisa ditemukan di blog saya pribadi. Judul tulisannya yakni “Baru Kali Ini Salat Rada Unik.” (ridharwan.co/baru-kali-ini-salat-rada-unik/)

Struktur Kata “Salat Dulu Yuk” atau “Yuk Salat Dulu”

Dalam kajian bahasa yang sedang saya usahakan untuk lulus, dua kajian yang bisa digunakan dalam kalimat di atas bisa memiliki dua arti lantaran strukturnya atau urutannya berbeda. Arti “Salat Dulu Yuk” akan berbeda dengan “Yuk Salat Dulu”. Posisi kata “Yuk” di depan atau di belakang, akan membuat makna dan arti kalimat di atas akan berbeda.

Salat dulu Yuk. = Perintah bersifat mengajak
Yuk salat dulu. = Ajakan yang menginformasikan/ terkesan bukan perintah

Coba ucapkan dua kalimat di atas, maka jelas akan berbeda nadanya. Namun secara umum, kata “Yuk” cenderung akan tinggi nada suaranya, baik pada saat di depan atau di belakang. Hal ini dikarenakan fungsi kata “Yuk” adalah mengajak.

Elegi Cinta Pejuang “Salat Dulu Yuk”

Tadi saya keluar kos untuk salat Isya. Seperti biasa, jalan ke masjid dari kos saya perlu sekitar 75 langkah dengan satu belokan 90 derajat gang jalan kecil. Pada belokan siku ke kanan ini, terdapat tempat duduk dari semen di sebuah kiri. Biasanya tempat duduk ini sering dijadikan tempat duduk. Kalau malam minggu, akan ada beberapa anak muda kumpul duduk-duduk di sini. Alasannya, tempat ini cukup nyaman dijadikan area tongkrongan. Selain persis di depan warung kecil, jalan kecil ini tidak begitu sering dilalui kendaraan. Saya juga terkadang duduk-duduk di sini di sore hari.

Posisi kosan saya diapit oleh dua masjid. Masjid kecil di belakang kosan saya dan masjid besar nan keren di depan. Jika ingin salat ke masjid besar, saya harus mengitari tembok tebal sebagai pagar masjid ini. Kalau dihitung jarak tempuh bolak-baliknya masjid ini bisa mencapai 1 Km. Lumayan sambil goyangin badan. Namun tetap, jalan menuju dua masjid ini harus melewati area tongkrongan ini.

Masjid Pusdai Bandung Jabar

Masjid Pusdai Bandung Jawa Barat

Namun ‘naas’, pada saat duduk di tempat duduk semen ini, sandaran tempat duduk ini adalah tembok yang mengelilingi salah satu masjid terbesar di Kota Bandung, Masjid Pusdai atau Masjid Islamic Center. Jadi lokasi kontrakan bulanan saya, persis di depan mihrab masjid besar ini. Naasnya, bagi mereka yang duduk di sini pada saat imam masjid besar ini menggunakan pengeras suara luar saat salat lima waktu berjamaah, suaranya akan sangat terdengar jelas sekali dari tempat duduk ini.

Cerita lain suasana kosan bisa dilihat di Kompasiana “Jalan Panjang Kos-kosan XIV.

Biasanya saat keluar untuk salat Isya atau jika melihat anak-anak muda nongkrong di sana di waktu-waktu salat, saya terkadang menyampaikan ajakan “mari salat dulu” dengan bermacam-macam struktur kalimat. Entah itu ayo salat dulu, salat dulu yuk, salat dulu, ayo salat, salat dulu kang, salat dulu mas, hayu salat, hayo salat dulu kang, dsb. Nah kalau tadi, saya menggunakan struktur “Salat dulu yuk.”

Tidak saya sangka, begitu saya berbelok ke kanan sambil mengucapkan “salat dulu yuk”, sepertinya ada dua orang anak muda yang mengikuti dan mengejar saya. Padahal waktu itu saya melihat ada sekitar 5 orang anak muda, 4 orang sedang duduk dengan salah satunya memegang gitar dan yang lain dengan minuman kopi kemasan dalam gelas plastik. Salah satunya adalah dengan seorang wanita muda berambut panjang dengan celana jin tanggung, berdiri di depan mereka. Lantaran jalan gang, maka tentu saya harus melewati jalan antara wanita yang berdiri dengan mereka yang sedang duduk-duduk ini.

Mungkin karena saya sadar diri umur saya sudah setengah dari rata-rata umurnya manusia dan mereka mungkin 10 atau 15 tahun lebih muda dari saya, maka dengan entengnya saya menyampaikan kalimat di atas pada saat berbelok menuju masjid.

Orang Salat Sujud di Lapangan Renon Bali Idul Fitri (AFP)

Orang Salat Sujud di Lapangan Renon Bali Idul Fitri (AFP)

http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/64688-photos-eid-al-fitr-indonesia

Seorang anak muda yang mengejar saya bertanya kepada saya, “Sudah azan yah Kang?”. Saya Jawab “Sudah iqomat.” Begitu saya sudah mengambil saf salat, tidak beberapa lama, anak muda yang mengejar saya sudah selesai ambil air wudu dan bergabung dalam barisan saf salat.

Sepertinya tiga orang yang mengikuti untuk salat ke masjid, namun saya kurang begitu perhatikan. Karena pada saat saya kembali pulang melewati tempat duduk ini, saya lihat hanya tersisa dua orang saja. Entah pada kemana. Biasanya, kalau saya tidak menyampaikan “Salat dulu yuk” pada saat saya berangkat untuk salat, biasanya saya akan menyampaikan pada saat sudah pulang salat.

Syair-Syair Pejuang Cinta

Apa yang saya ceritakan di atas hanyalah satu dari berbagai momen-momen yang menakjubkan dalam hidup ini. Entah sudah berapa kali kita mengalami cerita kecil namun bermakna. Entah itu selamat dari sebuah musibah lantaran hal-hal yang kecil atau kita mendapatkan kebaikan lantaran kita melakukan hal-hal yang terkadang kita anggap sepele sekali.

Film pendek cerita cinta subuh produksi WANT Production.

Film pendek cerita cinta subuh produksi WANT Production .

Lihat Film Juga Pendek Keren “Cinta Subuh

Apa yang saya lakukan di atas, umum saya lakukan. Bahkan jika saya sedikit sebal, ajakan untuk salat akan saya keraskan suaranya. Terlebih kalau ada yang duduk di sini sambil mendengarkan imam membaca takbir atau ayat-ayat pendek dalam salat, lengkap dengan kegiatan memetik gitar, ajakan yang saya gunakan biasanya “Ayo salat”.

Namun kejadian beberapa anak muda yang mau bersama ikut berjamaah ke masjid tadi, seolah-olah kalau ‘janji itu pasti benar.’ Janji menuju kemenangan. Bagi para pejuang cinta, jelas hal ini seperti penyejuk di kala zaman ini  adalah zaman andorid, facebook, atau apa pun itu.

Arti "Elegi" KBBI

Arti “Elegi” KBBI

Penutup

Tidak mudah saya menuliskan hal ini. Berbeda pada saat saya menulis tidak perlu mikir. Apalagi nantinya tulisan ini akan saya sebarkan di catatan facebook saya. Hitung-hitung sambil update status. Terlebih lagi secara otomatis, ilustrasi awal tulisan ini tersebar di 5 media sosial dukungan tarjiem.com. Karena itu saya menuliskan tulisan ini dengan berhati-hati. Mengolah kue berwarna putih yang terlihat rasanya seperti vanili (vanila), namun berusaha membuat rasanya seperti kue brownies coklat. Salat dulu yuk!

3 Comments

  1. cumilebay.com 2 Oktober 2015 07:19
    • Wahab Saputra 4 Oktober 2015 16:06
    • Ridha Harwan 6 Oktober 2015 08:48

Leave a Reply