Sarapan Bubur Ayam Dengan Teman-Teman Penerjemah

Ceritanya berawal dari kiriman Ibu Sofia di Grup Facebook Himpunan Penerjemah Indonesia pada tanggal 25 Mei 2015. Dari awal beliau sudah mengajak untuk ‘ketemuan’ atau bahasa lainnya silaturrahmi. Dari awal saya cukup tertarik dengan ajakan beliau, namun belum berani muncul dalam utasannya. Belum tahu bisa datang atau tidak. Beliau mengajak untuk sarapan bubur ayam, khususnya kepada rekan-rekan penerjemah yang ada di Bandung.

Mohon maaf kalau belum ada foto-fotonya. Saya belum mendapatkan foto yang diaplot.

Hari yang dinanti telah tiba. Tanggal 2 Juni yang lalu atau bertepatan libur nasional hari Raya Waisak, akhirnya menjadi hari sarapan buryam atau bubur ayam. Hari di mana bagi penikmat bubur ayam  menentukan, bagaimana cara enak dalam menikmati bubur ayam. ^_^

Pada saat berangkat ke tempat sarapan bubur ayam, Jl. Gatot Subroto No.32 Bandung, jalanan agak lenggang dan sepi. Jaraknya juga tidak jauh dari tempat saya tinggal di Pusdai, hanya sekitar 10-15 menit dengan berkendaraan motor.

Lokasi Bubur Ayam dari Google Maps

Lokasi Bubur Ayam dari Google Maps

Pada saat akan berangkat, sekitar pukul 8 pagi, akhirnya saya beranikan konfirmasi kehadiran, “Ikutan makan bubur ayam ^_^.” Ternyata kalau melihat urutan status kehadiran, Kang Adhi datang lebih dulu. Padahal tempat tinggal beliau mungkin yang paling jauh di antara yang hadir, arah Sumedang. Waktu tempuh mungkin bisa sekitar 1 jam lebih atau lebih dari 30 km. Lalu diikuti oleh Kang Ikram datang dari arah Kopo.

Jreng-Jreng…

Saya berangkat dari kos sekitar pukul 08:45. Setelah sebelumnya santai ‘membasahi’ perut dengan coklat hangat. Begitu tempat bubur ayam telah ditemukan, ternyata sudah pada kumpul semua. Ibu Sofia Mansoor, Ibu Meita,  Mbak Kartin, Kang Ikram, Pak David, dan Kang Adhi. Tidak beberapa lama, Ibu Betty juga hadir. Pak Ricky beserta putrinya, hadir pada saat bubur ayam sudah dihidangkan.

Lokasi Sarapan Bubur Ayam Jl. Gatot-Subroto No. 32 Bandung

Lokasi Sarapan Bubur Ayam Jl. Gatot-Subroto No. 32 Bandung (Foto: Kang Ikram)

Mulailah pemesanan bubur ayam dilakukan. Ada porsi setengah ada porsi satu. Para cowok disarankan memesan porsi satu. Ternyata setengah porsi bubur ayam di tempat ini adalah satu porsi bubur ayam di rata-rata penjual bubur ayam dengan mangkuk ayam jago yang katanya cukup ‘melegenda’. Lalu kalau satu porsi bubur ayam, mangkuknya lebih besar.

Mangkuk Ayam Jago yang terkenal dalam film Kung Fu Hustle t.co/PrEqtV9eHo

Mangkuk Ayam Jago yang terkenal dalam film Kung Fu Hustle (t.co/PrEqtV9eHo)

Filosofi Bubur Ayam

Sebelumnya saya pernah membaca tulisan terkait cara memakan bubur ayam beserta filosofinya. Semenjak saya membaca tulisan ini, awalnya saya suka mengaduk bubur ayam. Kini, saya kadang-kadang tidak mengaduk bubur ayam. Walaupun pada faktanya, ada banyak jenis makanan bubur ayam, seperti berkuah atau tidak berkuah. Berikut kutipan tulisan yang judulnya mengandung kata ‘agitatif’ (bersifat menghasut).

A: “Buburnya  gak diaduk, Bray?”
B: “Hah? Buat apaan diaduk? Emangnya semen…”
A: “Loh, haruslah. Biar semuanya kecampur rata!”
B: “Ah, jadinya gak enak dilihat tauk. Gak karu-karuan bentuknya!”

 

Kenapa BUBUR AYAM TIDAK DIADUK?

 

Simpel. Kalo diperhatiin proses ketika bubur ayam diracik, maka akan sadar semua itu sudah ada tatanannya. Ibarat kata anak sosiologi, sudah ada strata sosialnya.

 

Buburnya dulu;
Dituang kuah kaldu;
Dikasih suwiran ayam, seledri, dan kacang;
Diselimuti kecap manis;
Diakhiri kerupuk.

 

Perhatiin stratanya, itu udah sempurna banget. Ketika menyendok itu bubur, yang dapet adalah rasa dari susunan yang hakiki. Buat apaan lagi diaduk? Bubur ayam bukan ketoprak, apalagi kopi. Diaduk hanya akan menghilangkan keindahan si bubur. ngerusak seni!!!

 

Kalo kita tengok dengan kacamata sosial, bubur yang ada di bagian bawah dan berjumlah banyak merupakan gambaran kaum proletar; kelihatannya sepele tapi mereka adalah dasar kekuatan yang sesungguhnya. Selanjutnya ada suwiran ayam, seledri, dan taburan kacang yang termasuk dalam middle class: mereka memberikan pengaruh cita rasa ke atas dan ke bawah. Akan tetapi walaupun penting, perlu dicatat bahwa keberadaan mereka bukanlah yang utama, bahkan bisa ditiadakan sama sekali kalau alam (baca: sang penikmat buryam) menghendakinya. Terakhir pada bagian atas ada curahan kecap manis yang disambut oleh kerupuk, mereka adalah upper class, kaum fancy dalam hidup ini. Namun ingat, tidak akan ada kenikmatan yang tercipta jika kecap dan kerupuk ditaruh terlalu banyak. Jadi, secukupnya saja.

 

Paham dengan penjelasan di atas?

 

Jika iya, kita lanjutkan dengan hubungan penjabaran di atas dengan alasan kenapa bubur ayam tidak perlu diaduk. Susunan strata yang sudah sempurna itu jika kita aduk akan menimbulkan kegamangan bahkan chaos. Bayangkan kerupuk yang kodratnya berbunyi kriuk ketika dimakan akan hilang esensinya ketika bercampur dengan bubur yang diaduk. Melempem. Tidak berdaya. Tampilan bubur ayam yang awalnya indah dan instagram-able mendadak tampak seperti seonggok gumpalan yang porak poranda. Sungguh tak sedap dipandang. Semua sudah ada takarannya, semua sudah ada posisinya, untuk apa lagi diaduk-aduk?

 

Ingat, BUBUR AYAM TIDAK DIADUK.

Buat semua orang yang meyakini bubur ayam itu diaduk, bersyukurlah bahwasanya Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Segeralah tobat sebelum terlambat. #emotikonpeace

Kutipannya dari sini

Awalnya saya cukup serius membaca tulisan di atas. Namun saya sadar kalau tulisan tersebut hanyalah bersifat guyonan belaka, karena pada dasarnya kita harus bersyukur jika pada saat itu kita masih bisa menikmati makanan atau minuman yang hadir pada saat itu.

Lanjoeettttt…

Bubur ayam satu porsi akhirnya habis dinikmati. Pembicaraan pun masuk kepada hal-hal yang ringan dan santai. Pembahasan tidak ada yang membahas secara khusus soal dunia terjemahan atau penerjemah. Hanya membahas soal latar belakang hadirnya acara santai sarapan bubur ayam ini. Di mana hal ini merupakan bagian dari suka-duka pekerjaan bidang terjemahan. Saya pribadi pernah merasakan hal ini. Salah satunya pada saat saya menolak menerjemahkan jampi-jampi dalam Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris.

Sekitar pukul 10:30 akhirnya Ibu Sofia, Ibu Meita, Mbak Kartin dan Ibu Bety pamit lebih dulu. Sebelum pamit, kami sempat membahas kapan lagi acara santai ini diadakan kembali. Akhirnya sepakat hari Minggu sore tanggal 14 Juni 2015. Lokasinya masih di sekitaran kota Bandung. Sekitar pukul 11:00 akhirnya yang masih tinggal di tempat, undur diri juga.

Penutup Bubur Ayam

Momen sarapan bubur ayam ini benar-benar momen rileks. Bertepatan hari libur nasional, jalanan lenggang dan pada saat pagi hari. Hampir setiap orang suka bubur ayam. Hanya mungkin terjadi ‘perdebatan koplak‘ (lucu) mengenai bubur ayam. Lebih ‘asyik‘ diaduk atau tidak diaduk. Namun terlepas dari model bubur ayam yang akan digunakan, mungkin kita bisa kembali kepada peribahasa lama “Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul.” Bahasa Jawa yang artinya “Makan tidak makan yang penting kumpul.” Jika peribahasa lama ini ditarik kekinian, mungkin akan menjadi:

“Indah memang interaksi di dunia maya. Namun akan lebih indah jika dapat berinteraksi di dunia nyata.”

8 Comments

  1. Rozapk 9 November 2015 22:43
    • Ridha Harwan 13 November 2015 08:48
  2. Sucipto Kuncoro 25 Juni 2015 17:19
    • Ridha Harwan 2 Juli 2015 14:44
  3. cumilebay.com 15 Juni 2015 23:10
    • Ridha Harwan 19 Juni 2015 06:11
  4. ibrahim 6 Juni 2015 21:43

Leave a Reply