Asal Muasal Kata-Kata Singkatan Dalam Bahasa Indonesia

Ada yang menarik bagi saya siang hari ini. Sebuah status perkenalan dalam sebuah grup di facebook yang menjadi inspirasi saya menulis tulisan ini. Semakin saya membaca lanjutan ceritanya, semakin terdorong saya menuliskan tulisan ini. Sebuah tulisan iseng-iseng sebagai pengisi blog saya yang masih minim tulisan dengan kategori “Bahasa Indonesia“. Baru ada satu tulisan saja.

Berikut “data” yang digunakan dalam tulisan ini.

Data dalam tulisan kali ini. Contoh kata-kata singkatan.

Data dalam tulisan kali ini. Contoh kata-kata singkatan.

Demi kenyamanan sang penulis, beberapa kata sengaja saya sembunyikan.

Pada saat saya memulai membaca tulisan di atas, pikiran saya sudah mulai menduga-duga. Begitu saya membaca satu hingga tiga kata berikutnya, saya langsung melompat ke bagian akhir tulisan atau paragraf di atas. Hanya untuk memastikan, apakah benar dalam paragraf di atas menggunakan kata-kata singkatan seluruhnya. Ternyata benar. Hampir seluruhnya menggunakan kata-kata singkatan.

Sebenarnya fenomena ini cukup menarik jika dilihat dari sudut pandang penggunaan ragam bahasa tulis dalam kegiatan sehari-hari di masyarakat. Saya masih ingat kalau waktu saya sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, kata-kata yang paling sering saya singkat pada saat menulis dalam sebuah buku catatan adalah kata “yang” menjadi “yg”. Alasannya sederhana, karena preposisi “yang” ini salah satu kata yang paling banyak muncul dalam bahasa tulis Bahasa Indonesia. Hal ini sendiri pun sudah saya buktikan pada saat saya menggunakan perangkat lunak untuk menghitung jumlah kata yang paling sering muncul dalam sebuah dokumen atau cerita.

Dari Mana Bahasa Singkatan-Singkatan Itu Muncul dan Berkembang?

Pada saat saya bersekolah, telepon seluler adalah sebuah alat komunikasi yang masih terbilang mewah pada saat itu. Saya pun masih ingat, model komunikasi yang paling sering dilakukan yakni melalui telepon rumah. Tidak seperti saat ini, saluran komunikasi sudah beraneka ragam.

iPhone dan Sang Kakeknya.

iPhone dan Sang Kakeknya.

Asumsi saya, mengapa banyak fenomena bahasa-bahasa singkatan itu muncul diakibatkan penggunaan pesan singkat dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua tahu kalau dalam pesan singkat (short messegge service atau sms) hanya mengizinkan 140 karakter untuk satu kali pengiriman. Hal ini membuat tantangan tersendiri bagi para penggunanya yang ingin menyampaikan sesuatu dalam bentuk pesan singkat. Jelas sekali hal ini membuat, mau tidak mau, penggunaan bahasa-bahasa singkatan akan digunakan.

Tidak hanya dalam komunikasi pesan singkat saja, saat ini cukup banyak model komunikasi dalam bentuk tulisan. Salah satu antaranya adalah chatting atau mengobrol di internet. Apakah itu menggunakan sebuah layanan Blackberry Messenger, WhatsApp, chatting di facebook, di yahoo messenger, twitter, dsb. Maka jelas sekali bentuk bahasa tulisan yang umum digunakan.

Fenomena Bahasa Singkatan dari Facebook

Fenomena Bahasa Singkatan dari Facebook

Apalagi di saat ini, boleh dikatakan “tidak gaul” jika tidak memiliki ponsel yang saat ini bukan menjadi barang mewah lagi. Model ponsel saat ini juga macam-macam. Namun ada satu hal yang menjadikan model ponsel itu berbeda, yakni pada pemilihan tombol yang digunakan. Secara umum terdapat dua model dasar tombol ponsel yang ada saat ini, model numerik yang seperti kalkulator dan model qwerty yang seperti papan ketik (keyboard).

Model tombol numerik ini mungkin merupakan model yang pertama kali populer. Model ini pertama kali dipopulerkan oleh ponsel Nokia. Namun sekarang model tombol qwerty sudah cukup banyak digunakan dalam ponsel-ponsel keluaran terbaru. Setidaknya dengan banyaknya muncul ponsel menggunakan tombol qwerty, hal ini membuat komunikasi melalui teks tulis dapat menjadi lebih mudah dan mungkin lebih cepat.

Evolusi Ponsel gambar:pinoyexchange.com

Evolusi Ponsel gambar: pinoyexchange.com

Dengan menggunakan tombol qwerty, pada saat menggunakan komunikasi tertulis, kita hanya cukup menekan satu tombol untuk satu huruf. Beda jika kita menggunakan tombol numerik. Terkadang kita perlu menekan tiga hingga empat kali untuk mendapatkan satu buah huruf dalam ponsel kita. Mungkin hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya kegiatan penulisan bahasa-bahasa singkatan dalam komunikasi tulisan sehari-hari. Termasuk saya, terkadang saya juga menggunakan bahasa singkatan-singkatan dalam pesan singkat saya untuk mencapai satu kali pengiriman untuk satu buah pesan singkat.

Walaupun demikian, penggunaan bahasa-bahasa singkatnya ini akan lebih baik digunakan dalam konteks tertentu atau suasana pada saat kita berkomunikasi dan dengan siapa kita berkomunikasi. Bahkan, mungkin hadirnya teknologi layar sentuh qwerty ini dapat mengurangi kita menggunakan bahasa singkatan dalam komunikasi tulisan. Demikian. :)

10 Comments

  1. Alan haibunda com 6 Juni 2016 15:27
    • Ridha Harwan 20 Juni 2016 05:44
  2. Cream anisa creamanisaasli dot net 31 Maret 2016 18:50
    • Ridha Harwan 6 April 2016 06:12
  3. Dimas Tablend frutablendhwiasli dot com 31 Maret 2016 18:49
    • Ridha Harwan 6 April 2016 06:11
  4. Yukina Hawmie 13 Mei 2015 07:07
    • Ridha Harwan 15 Mei 2015 21:51
  5. ibrahim 26 April 2015 21:59
    • Ridha Harwan 29 April 2015 19:49

Leave a Reply