Sulitnya Bermain Kata Dalam Terjemahan Bahasa Politik

Dua hari ini saya dimintai tolong oleh teman kampus saya yakni menerjemahkan beberapa abstrak miliknya. Walaupun teman saya ini mengambil jurusan sejarah, namun fokus kajian tugas akhir yang diambilnya adalah tentang salah satu sejarah sebuah partai di Indonesia. Dari awal menerjemahkan saya sudah siap sedia kamus kolokasi Bahasa Inggris. Hari pertama saya menerjemahkan lancar tidak ada halangan. Namun pagi ini saya sedikit kelimpungan dengan pemilihan sebuah kata sebagai bagian sebuah frasa.

Hal yang membuat saya “garuk-garuk” kepala dalam proses penerjemahan bahasa politik tadi pagi adalah banyaknya kombinasi kata (kolokasi) yang harus saya ketahui. Pada saat saya membuka kamus kolokasi Bahasa Inggris dari Oxford, lalu mencari kolokasi kata “Political”. Maka muncullah ratusan padanan kata-kata “political” dalam Bahasa Inggris yang harus saya ketahui sebagai seorang penerjemah bahasa.

Ratusan kolokasi kata "politik" yang harus diketahui.

Ratusan kolokasi kata “politik” yang harus diketahui.

Mau tidak mau saya haru membaca satu per satu pilihan kata yang akan saya gunakan. Beberapa kata tidak saya kenali namun saya berusaha memilah mana kata-kata yang akan saya gunakan sebagai frasa kata politik.

Saya ambil contoh kasus yang pagi ini saya hadapi yakni menerjemahkan frasa “pergeseran politik”. Kalau yang sudah sering menerjemahkan atau membaca artikel tentang politik dalam Bahasa Inggris, tentu akan mengetahui apa itu Bahasa Inggrisnya “pergeseran politik”. Akhirnya muncullah beberapa alternatif pilihan kata untuk terjemahan “pergeseran”. Beberapa di antara pilihan kata yang saya temukan adalah menggunakan kata shift, change, displace, atau maneuver. Memang yang paling “aman” adalah menggunakan kata-kata “change“. Namun tampaknya pilihan kata itu kurang tepat. Mari kita lihat definisi masing-masing pilihan kata di atas dalam Bahasa Inggris degan rujukan kamus digital Oxford milik saya.

Kira-kira jika di Bahasa Inggriskan, “pergeseran politik” menjadi frasa apa?

Begitulah gambaran betapa proses penerjemahan itu tidak secepat proses penerjemahan pada saat kita menggunakan mesin penerjemah otomatis yang langsung jadi hasil terjemahannya. Terlebih lagi apabila itu sudah menyangkut bahasa hukum atau politik. Menghindari perbedaan interpretasi akan arti sebuah kata menjadi tantangan tersendiri dalam penerjemahan bidang ini. Karena itu terjemahan bahasa politik hampir mirip dengan penerjemahan bahasa hukum atau legalese. Terjemahan bahasa yang digunakan adalah bahasa yang saklek (Bahasa Jawa yang artinya “kaku”).

Hal ini berbeda dengan pada saat kita melakukan proses terjemahan dalam bidang fiksi, seperti novel atau bahkan puisi. Proses terjemahannya bisa dilakukan dengan bermain dalam tataran pilihan kalimat yang akan digunakan. Terkadang proses terjemahannya menggunakan kata-kata yang jauh sekali dengan kata-kata aslinya. Bahkan terkadang kita dianjurkan untuk menggunakan gaya bahasa dalam bahasa sasaran yang sedang diterjemahkan. Itulah mengapa sulitnya bermain kata dalam terjemahan bahasa politik.

21 Comments

  1. Ari 26 Januari 2015 00:15
    • Ridha Harwan 26 Januari 2015 08:12
  2. Beby 23 Januari 2015 16:50
    • Ridha Harwan 24 Januari 2015 08:58
  3. LESTARI 23 Januari 2015 09:56
    • Ridha Harwan 24 Januari 2015 08:53
  4. Renggo Starr 23 Januari 2015 09:41
    • Ridha Harwan 24 Januari 2015 08:52
  5. mitradetik 22 Januari 2015 21:05
    • Ridha Harwan 23 Januari 2015 06:30
  6. Achmad Fazri 22 Januari 2015 17:36
    • Ridha Harwan 23 Januari 2015 06:29
  7. muzi 22 Januari 2015 16:48
    • Ridha Harwan 23 Januari 2015 06:29
  8. yanto cungkup 22 Januari 2015 15:56
    • Ridha Harwan 23 Januari 2015 06:28
  9. buret 22 Januari 2015 15:42
    • Ridha Harwan 23 Januari 2015 06:28
      • buret 23 Januari 2015 09:12
  10. Sucipto Kuncoro 22 Januari 2015 11:50
    • Ridha Harwan 23 Januari 2015 06:27

Leave a Reply