Antara Tukang Pos dan Penerjemah Bahasa

Sebuah catatan kecil mengenai perbedaan dan persamaan antara tukang pos dan penerjemah bahasa. Tulisan ini terinspirasi dengan sudah adanya alat penerjemah gambar yang bisa digunakan secara gratis, salah satunya adalah word lens dan google penerjemah foto.

Pendahuluan Tukang Pos dan Penerjemah Bahasa

Salah satu definsi dalam teori terjemahan menyebutkan bahwa, penerjemah adalah sebuah proses penyampaian pesan bahasa pengantar atau bahasa sumber ke dalam bahasa tujuan atau bahasa sasaran. Bahasa sasaran ini sendiri memiliki kumpulan kata-kata yang memiliki makna atau pesan yang harus disampaikan secara tepat ke dalam bahasa sumber, misalnya dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Dari definisi proses terjemahan ini, dapat kita ambil sebuah kata kunci bahwa tugas seorang penerjemah bahasa adalah menyampaikan pesan bahasa sumber ke bahasa tujuannya.

Lalu bagaimana dengan tukang pos atau yang lebih dikenal dengan Pak Pos?

Tukang pos atau kurir barang juga memiliki tugas yang sama, yakni tugasnya adalah mengantarkan barang yang dipercayakan kepada pengirim untuk disampaikan kepada si penerima.

Baca Juga: Cara Bekerja Jadi Penerjemah Setelah Lulus Kuliah Sastra Inggris

Dari dua buah profesi ini kita dapat mengambil sebuah persamaan, yakni tugasnya adalah sama-sama menyampaikan sesuatu. Jika Pak Pos tugasnya menyampaikan dalam bentuk barang, maka tugas penerjemah adalah menyampaikan pesan bahasa sumber.

Tukang Pos Zaman Dahulu

Saya masih ingat kalau pada zaman dahulu kala, sebelum ditemukannya ponsel android, power bank, atau lampu listrik, orang-orang yang ingin mengirimkan sebuah surat dari sebuah daerah ke daerah lainnya juga menggunakan tukang pos. Di beberapa daerah masyarakat banyak yang memanfaatkan burung merpati untuk mengantarkan sebuah surat kecil yang diletakkan di kakinya. Itulah mengapa beberapa perusahaan kantor pos atau kurir barang menggunakan merpati sebagai simbol atau logo perusahaan jasa pengirimannya. Sebuah simbol kesetiaan.

Iklan lowongan tukang pos zaman dahulu, bersedia 'mati'
Iklan lowongan tukang pos zaman dahulu, bersedia ‘mati’ gambar:danthemantrivia.wordpress.com

Selain burung merpati, para raja atau pembesar sebuah negeri juga menggunakan jasa pos dalam mengirim pesan ke sebuah daerah. Biasanya para raja atau pembesar negeri tersebut juga memanfaatkan seorang kurir. Kurir ini tugasnya menyampaikan pesan dan bertanggung jawab akan keselamatan dan tibanya pesan ke tempat tujuan. Dikarenakan biasanya pesan yang disampaikan itu adalah surat-surat penting, maka seorang kurir ini merupakan orang pilihan. Termasuk juga kendaraan yang digunakan, salah satunya adalah kuda, juga termasuk kuda pilihan. Sang kurir ini biasanya orang yang terlatih dan mengenal medan yang akan ditempuh. Selain kendaraannya juga harus cepat, sang kurir itu sendiri setidaknya mampu menghadapi bahaya seorang diri.

Kurir dan Tukang Pos Zaman Sekarang

Kita kembali ke zaman kita saat ini, di mana bahasa 4l4y bin j4bl4y dan bahasa Cius Miapah menjadi populer. Saat ini kendaraan Pak Pos sudah diganti dengan kuda besi yang hanya minum air saja, sepeda motor. Dengan sepeda motor inilah, kendaraan ini digunakan untuk keluar-masuk kampung-kampung pemukiman yang terkadang jaraknya cukup jauh ditempuh atau cukup padatnya penduduk yang tinggal di suatu kampung tersebut. Tugasnya juga sama, menyampaikan sebuah surat atau barang untuk disampaikan kepada penerima.

Pak Pos Berhadapan Dengan Email

Bahasa keren email itu adalah surel atau surat elektronik. Saat ini mungkin banyak orang yang beranggapan kalau mungkin kita tidak perlu mengirim surat seperti zaman dahulu kala. Cukup mengirimkan email saja dan pada saat itu juga pesan yang disampaikan tiba tanpa menunggu waktu yang lama. Memang betul layanan surat elektronik ini sangatlah membantu, namun pernahkah terbayang kalau ada sedikit perbedaan pada saat kita membaca surat yang ditulis dengan tangan sang pengirim dengan surat yang ditulis dalam bentuk digital? Menurut saya ini sama saja seperti kita memasak nasi goreng dengan bumbu instan yang kita beli dengan bumbu nasi goreng yang kita ulek atau kita ramu sendiri. Walaupun sama-sama makan nasi goreng, tapi ada hal yang berbeda dalam kedua kegiatan yang sama ini.

Ilustrasi Google Translate
Ilustrasi Google Translate

Google Translate

Saat ini anak muda yang gaul itu ‘diwajibkan’ mengenal program yang di sebut dengan Google Translate atau Google Terjemahan. Program penerjemah online ini mampu menerjemahkan secara seketika itu juga. Dengan program online penerjemah bahasa yang gratis ini banyak kegiatan sehari-hari dapat dibantu. Termasuk salah satunya belajar Bahasa Inggris atau menjadi kamus Inggris Indonesia. Terlebih lagi Google Translate sudah mendukung beberapa bahasa daerah di Indonesia, salah satunya Bahasa Sunda.

Contoh Hasil Aplikasi penerjemah Word Lens
Contoh Hasil Aplikasi penerjemah Word Lens

Pak Pos, Penerjemah Bahasa, dan Google Translate

Ada sebuah persamaan yang dimiliki ketiga hal ini. Yakni, sama-sama menyampaikan sebuah amanat atau pesan. Seorang tukang pos tugasnya menyampaikan surat dan barang. Seorang penerjemah bahasa menyampaikan pesan bahasa sumber ke bahasa sasaran, dan Google Translate tugasnya menerjemahkan kata-kata atau kalimat yang dimasukkan ke dalam penerjemah online ini. Hanya saja bedanya, Google Translate dapat menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik beda dengan seorang penerjemah bahasa yang terkadang ia butuh beberapa jam atau dalam hitungan hari hanya untuk menemukan padanan yang tepat untuk sebuah kata yang sedang ia terjemahkan.

Penutup: Penerjemah Bahasa vs Google Translate

Rasanya kurang tepat jika saya memperlagakan antara seorang penerjemah bahasa dengan Google Translate. Namun saya ingin mengembalikan kepada pembaca apakah mungkin jasa penerjemah bahasa itu hilang dan digantikan oleh alat penerjemah bahasa yang saat ini terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini? Jika hal itu mungkin, bisa saja suatu saat Pak Pos dan Jasa Kurir yang sudah ada sejak zaman dahulu kala, juga ikut tenggelam bersama email.

22 thoughts on “Antara Tukang Pos dan Penerjemah Bahasa

  1. tentunya semakin tahun, teknologi semakin canggih saja ya kang , sekarang kita sebagai manusia cuma hanya bisa mengikuti perkembangan zaman. dan saya lebih setuju akan pendapat kang Yanto, untuk translate mesin google terkadang tidak akurat .

  2. kalau mesin translate terkadang suka rada gimana gitu Mas hasil terjemahan nya, dan saya rasa masih lebih kurat jasa terjemahan deh mas Ridha

  3. Perkembangan zaman yang menggeser keberadaan pak pos dan penerjemah. Semoga kang ridha tetap eksis sebagai penerjamah. sukses kang.

    kang bisikan template wordress yang fast load dong. lagi nyari template wordpress ni kang. thanks ya/

    • Loh bukannya sudah ganti template wordpress. Banyak banget tempalte wordpress itu yang bagus, baik gratisan atau berbayar. Baik itu produksi dalam negeri atau luar negeri. Bentuk desainnya mau yang bagaimana? bentuk magazine. Kalau mau, saya beli tempalte/themes wordpress saya dari sini(pakai link afiliasi saya). Cuman coba tanya-tanya dulu. biar gak rugi belinya. Soalnya kayaknya pembuat themes tempat saya beli orangnya sibuk banget.
      Dari wordpress.org saja sudah banyak yang bagus-bagus versi gratisannya. Kalau mau beli template/themes, pedomannya harga sekitarn 100-ribuan itu sudah cukup bagus kalau hanya untuk blog saja.

  4. kemampuan kita tergantikan oleh mesin robot yang serba otomatis. tergantung bagaimana kita menyikapinya mas, gugel translatepun masih ada kekurangannya, kita masih harus meralat terjemahan dari gugel sendiri, email pun hanya sebatas surat elektronik, bagaimana klo kita ingin mengirim ijazah asli, sertifikat asli, tentu kita masih membutuhkan tukang pos/jasa ekspedisi.

Leave a Comment