Penelitian Penerjemahan Tanpa Teori Terjemahan

Pendahuluan

Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu.
Saat ini secara bruto, saya membangun kegiatan penerjemahan ini sudah hampir tiga tahun lebih. Sebetulnya sih, sejak mahasiswa sudah memulai kegiatan penerjemahan, jadi kalau dihitung kasar, kurang lebih sejak tahun 2007 atau 2008 hingga saat ini.
Kemudian berlanjut ketika lulus kuliah dan mulia bekerja. Setelah lulus kuliah dan diterima di pekerjaan “tetap” hampir 2 tahunan, akhirnya memutuskan untuk fokus di kegiatan membangun kegiatan penerjemahan.  Sebetulnya agak kurang nyaman kalau saya menyebutkan sebagai usaha penerjemahan atau “bisnis” penerjemahan. Biarlah dalam tulisan ini saya menyebutkan usaha penerjemahan menjadi penerjemahan saja.
Ketika saya memutuskan berhenti dan keluar di tempat kerja yang apabila menurut kebanyakan orang adalah sebuah pekerjaan yang “wah”, banyak sekali yang bertanya, kerja apa sekarang? Saya sedikit “hampir bosan” dengan pertanyaan itu. Malah terkadang saya hanya bisa menjawab dengan jawaban “sekenanya” saja. Karena, apabila saya menjawab dengan “saya adalah seorang penerjemah Inggris Indonesia” hampir kebanyakan akan “berkerut” dan mulia melancarkan pertanyaan lanjutan yang arahnya pertanyaannya sudah hampir sama semua arahnya.
Penelitian Penerjemahan Tanpa Teori Terjemahan
Memang, jika kita berbicara “penerjemahan” saat ini, banyak orang berpikir mengenai google translate. Karena itulah, jika mereka yang sedikit kagum akan perkembangan google translate, terkadang saya mengarahkan untuk menggunakan jasa terjemahan google translate, yang jelas-jelas hanya membutuhkan koneksi internet dengan trik salin-rekat.
Sudah cukup bagian Pendahuluan dan Kerangka Teorinya, mari kita masuk ke bagian pembahasan data.

Tinjauan Pustaka

Dengan izin Allah swt, alhamdulillah, boleh dikatakan, saya menjemput rezeki hanya di duduk satu tempat, yaitu di depan layar monitor yang berada hampir satu ruangan di tempat tidur saya. Jujur, saya tidak kemana-kemana.  Dan jika dihitung-hitung, sepertinya sudah saya lakukan semenjak saya memutuskan untuk keluar sebagai seorang yang bekerja di suatu tempat kerja “tetap”, sejak sekitar tahun 2011-an. Saya sendiri telah memutuskan keluar dari zona, yang banyak orang menyebutnya sebagai zona nyaman. Yah, sebuah zona wirausahawan totalitas.  Jadi, jika menggunakan perhitungan kasar, maka anggap saja saya melakukan (usaha) penerjemahan sudah hampir 2-3 tahunan.
Itu adalah data saya. Mari lihat data lainnya.
Saya menggunakan 3 sampel penelitian di sini.

Data Penelitian

Data Pertama

Pertama adalah rekan saya yang saya kenal pada saat saya juga memulai kegiatan penerjemahan. Dia hampir sebaya dengan saya, dengan pasangan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia juga dan berlatar belakang Bahasa Inggris juga. Anggap saja teman saya ini memulai penerjemahan di tahun 2011. Terakhir saya berkomunikasi pada tahun 2014, baru-baru ini. Jadi sudah 3 tahun. Kabar dari dia adalah, dia telah menerbitkan beberapa buku hasil terjemahan. Judulnya entahlah… :D. Kami melakukan sedikit curhat yang pada intinya adalah, kegiatan penerjemahannya alhamdulillah berjalan (sangat) lancar.

Data Kedua

Beliau ini mungkin umurnya 1 atau 2 tahun lebih muda dari saya, telah berkeluarga dan dikaruniakan seorang putri yang manis sekali. Awalnya kami berinteraksi di dunia maya dan kemudian diperkenankan berlanjut di dunia nyata. Walaupun lebih muda dari saya, dia telah lebih dahulu masuk ke dunia terjemahan. Anggap saja beliau mulia dari tahun 2008 atau 2009. Jadi sudah hampir 5 tahun membangun penerjemahan ini. Kabarnya terakhir adalah, tidak beberapa lama lagi dia akan menjadi “toke” penerjemah. Jika saat ini posisi saya adalah penjual eceran, maka beliau adalah distributornya.

Data Ketiga

Kalau ini, adalah rekan saya waktu sama-sama kuliah di Sastra Inggris. Saat ini dia sudah punya agensi sendiri. Hanya saja saya kurang tahu persis kapan dia mulai di dunia terjemahan. Tapi sepertinya, saya yang lebih dahulu memulainya.
Sepertinya 3 data saja cukup untuk ditampilkan di sini.
Mari kita masuk ke Pembahasan.

Pembahasan

Dalam teori manajemen, ada yang mengatakan bahwa, tahap-tahap saat membangun sesuatu hal yang baru itu memiliki rentang waktu masing-masing. Rentang waktu tersebut adalah, 1 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12 bulan (1 tahun), 2 tahun, 3 tahun, 4-5 tahun, 10 tahun, …, 100 tahun dst.
Nah yang ingin saya sampaikan adalah, selama kurun waktu 3 tahun di terjemahan, setidaknya saya pribadi harus bersyukur. Hal ini juga sama halnya dengan beberapa rekan-rekan saya yang juga pernah memulai kegiatan penerjemahan ini. Butuh waktu memang untuk melakukan sesuatu hal yang baru, apalagi itu terkait dengan jauh dari “zona nyaman”.

Kesimpulan Penelitian Penerjemahan Tanpa Teori Terjemahan

Setidaknya, butuh waktu 2 tahun lebih atau 3 tahun untuk benar-benar bisa merasakan dunia terjemahan atau industri terjemahan.

Daftar Pustaka

Google dan Tarjiem.com

Meme Batman menampar Robin
Meme Batman menampar Robin

Leave a Reply