Nasi Goreng dan Terjemahan

Nasi Goreng

Awalnya sih ingin membuat tulisan tentang “Kopi Kemasan dan Starbucks”, tapi begitu saat menunggu antrian pembelian nasi goreng jadi terpikirkan membuat tulisan nasi goreng dan terjemahan ini. Masih seputar bahasan penerjemahan, tulisan ini erat kaitannya dengan harga dan kualitas. Secara sederhana, inti dari tulisan ini adalah, “ada harga ada kualitas”.

Nasi Goreng (fried rice)

Nasi Goreng (fried rice)

Pernah beli nasi goreng? Tentu saja pernah, karena nasi merupakan makanan mayoritas bangsa ini, Bangsa Indonesia. Wong Bule  saja sudah pernah makan nasi goreng kok, kenapa kita belum pernah :). Bahasa Inggris “nasi goreng” yaitu fried rice, artinya nasi yang digoreng, jadilah nasi gorengTidak sulit memang membuat makanan nasi goreng. Berbekal nasi putih yang sudah dimasak/ditanak ditambah dengan bumbu atau rempah-rempah, biasanya ada bawang putih dan bawang merahnya, kemudian dicampurkan ke dalam nasi yang sedang digoreng maka jadilah nasi goreng. Biasanya ditambah dengan telur, acar, timun, tomat, potongan daging ayam, udang dsb., tergantung keinginan yang menyajikan atau yang memesannya.

Gerobak Nasi Goreng

Gerobak Nasi Goreng

Lalu apa kaitannya nasi goreng dan terjemahan?

Tentu saja tidak ada kaitan secara langsung. Hanya saja ini merupakan kreasi penulis dalam menghubungkan antara terjemahan Inggris Indonesia, dikaitkan dengan harga dan jasa yang ditawarkan.

Kembali lagi ke nasi goreng.

Dilingkungan saat ini saya tinggal, banyak sekali penjual nasi goreng, ada yang penjual yang berkeliling-keliling dan ada yang menetap. Sudah jelas masing-masing memiliki pembeli yang berbeda-beda. Tempat inspirasi tulisan ini muncul yaitu di penjual nasi goreng yang menetap. Penulis sendiri memiliki berbagai tempat alternatif untuk membeli nasi goreng, umumnya penjual nasi goreng yang menetap, kalau tidak salah ada 4 alternatif tempat membeli nasi goreng.

Namun, yang menjadi langganan penulis yaitu penjual nasi goreng yang jaraknya paling jauh dibandingkan nasi goreng yang lain, harganya paling mahal, dan waktu menunggunya lebih lama dibandingkan yang lain. Untuk harga nasi goreng yang ditawarkan ditempat ini sendiri, terakhir sebelum bahan bakar minyak naik menjadi Rp 6.500/ liternya yaitu Rp 9.000 untuk satu piring nasi goreng, mungkin nanti naik Rp 1.000. Lebih murah seribu rupiah dibandingkan ditempat langganan nasi goreng penulis sendiri. Untuk waktu menunggunya, jika penulis tidak memesan terlebih dahulu melalui pesan singkat, bisa-bisa menunggu 15-30 menit untuk memesannya. Jaraknya juga lumayan, tidak sampai 1 km.

Lalu kenapa memilih membeli nasi goreng yang mahal, jauh, dan lama menunggunya?

Alasannya sih sederhana, karena kualitasnya. Walaupun menunggunya lama, harganya mahal dan jaraknya jauh, akan tetapi penulis pribadi merasa senang dengan membeli ditempat nasi goreng ini atau dengan kata lain merasa puas. Karena berdasarkan penilian penulis sendiri sebagai pembeli atau pelanggan penjual nasi goreng itu.

Nasi Goreng ala Jepang (Ilustrasi)

Nasi Goreng ala Jepang (Ilustrasi)

Yaa, begitulah gambaran nasi goreng saya.

Kemudian jika ditarik kaitan antara nasi goreng dan terjemahan Indonesia Inggris yang saya tawarkan, masing-masing memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menghasilkan sebuah produk. Penjual nasi goreng menghasilkan nasi goreng berdasarkan kriteria yang diinginkan pembeli. Sedangkan jasa penerjemahan yang ditawarkan, menawarkan sebuah hasil terjemahan yang dihasilkan dari bahasa sumber terjemahan. Masing-masing produk ini jelas masing-masing melalui tahapan yang berbeda. Untuk tahapan proses penerjemahan yang dilakukan penerjemah, secara spesifik mungkin tidak akan disampaikan disini. Karena memerlukan bahasan tersendiri.

Walaupun secara umum, proses penerjemahan itu pada prinsipnya memindahkan atau menyampaikan pesan atau makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Akan tetapi, proses yang dilakukan oleh masing-masing penerjemah sendiri akan berbeda-beda caranya. Dan secara umum tergantung konteks yang sedang dibicarakan.

Dari sinilah akan terlihat hasil terjemahan yang akan dihasilkan. Sebagaimananya nasi goreng, bumbu, cara memasak, cara penyajian dsb. akan mempengaruhi nasi goreng yang dihasilkan. Dan bagi anda yang biasa membeli nasi goreng, akan mengetahui nasi goreng atau makanan mana yang sesuai dengan selera. Begitu juga dengan hasil terjemahan. Bagi kita yang memiliki Bahasa Ibu, yaitu Bahasa Indonesia, tentu tidak akan sulit mengetahui hasil terjemahan Bahasa Inggris ke Bahasa Indoensia yang sesuai dengan keinginan. Secara gamblangnya yaitu, mudahnya pembaca memahami hasil terjemahan yang telah dilakukan oleh penerjemah.

Contoh Pemakaian Google Translate

Contoh Pemakaian Google Translate

Bagaimana dengan proses translate Indonesia Inggris?

Disinilah peran serta penerjemah beserta pendukung akan proses penerjemahan yang dilakukan. Tentu saja pembeli memberikan kepercayaan kepada penerjemah untuk menerjemahkan dokumen yang diber
ikan, sama halnya ketika pembeli nasi goreng percaya kepada penjual nasi goreng bahwa penjual nasi goreng memasukkan bumbu-bumbu nasi goreng yang sesuai ke dalam makanan yang dipesan oleh pembeli. Penulis pribadi berharap penjual nasi goreng memasukkan bumbu racikan yang halal dan baik untuk makanan yang akan dimakan.

Penutup

Cerita ini terinspirasi dari cerita antara “Kopi Kemasan dan Starbucks”. Masing-masing sama-sama menjual produk kopi, namun mengapa masing-masing memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Baik dari segi harga, pembeli, tempat penjualan dsb.  Demikian tulisan saya mengenai Nasi Goreng dan Terjemahan. Mohon maaf jika ada kesalahan, semoga bermanfaat. :)

4 Comments

  1. bengkel blogger 29 Januari 2015 14:26
    • Ridha Harwan 30 Januari 2015 06:57
  2. Ridha Harwan 17 Maret 2014 22:29
  3. Rahmatdi Aja 14 Maret 2014 21:02

Leave a Reply